Relativitas dan Persepsi

Dari zaman saya SD sampai saat ini saya tidak terlalu menyukai menggambar. Hem sesungguhnya bukan anti menggambar atau bagaimana. Untuk menggambar kebutuhan sendiri atau kepuasaan sendiri saya sering melakukannya, misalnya saat rapat membosankan saya menggambar, atau saat sedang stress kecil saya beristirahat sejenak untuk menggambar atau mewarnai. Jadi lebih tepatnya tidak suka jika menggambar, kemudian dilihat orang dan kemudian dinilai.

Awalnya sejak SD saya yang sering mendapat nilai kurang baik saat pelajaran menggambar. Bukan lari dari kenyataan bahwa saya tidak bisa menggambar, entah pemikiran dari mana saya beranggapan bahwa menggambar bagus, jelek sangatlah relatif. Apakah gambar yang baik adalah yang mirip dengan objek asli, pewarnaan yang rapi, si Ine kecil merasa menggambar adalah penyaluran pemikiran dan perasaan pribadi, dan free style aja deh.

Ine remaja yang mulai lebih lebar cakrawalnya, baru melihat lukisan abstrak, surealis, dekoratif, dll. Dunia mulai terbuka bahwa pencipta gambar bebas berkreasi apapun. Penonton dan penikmat gambar pun bebas ber opini. Walau sampai sekarang pun masih tidak mengerti bagaimana cara penilai seni menyatakan lukisan abstrak ini bagus dan bernilai seni tinggi dan sesame abstrak lainnya dinilai biasa saja…humph ternyata sesuatu yang relatif pun penilaiannya masih dibentuk oleh opini beberapa orang yang dianggap ahli.

Melihat kehidupan nyata, kita menyatakan wanita cantik, pria tampan, binatang imut, menjijikan (dan masih banyak lagi) lahir dari pembentukan persepsi dan opini yang berulang-ulang. Penilaian itu pun sangat relatif bagi sekelompok orang di area geografis tertentu dan kelompok lainnya.  Wanita cantik bagi kita umumnya adalah tinggi semampai, langsing,  kulit putih, rambut sehat terawat. Bagi masyarakat di belahan dunia lain menilai wanita cantik adalah berkulit coklat, eksotis. Bagi saya ular adalah binatang menjijikan, tapi bagi penyukanya ular adalah binatang menggemaskan.

Dunia penuh persepsi dan relativitas, hak Pencipta untuk menciptakan keunikan. Lantas kenapa kita selalu berlelah diri menjadi pribadi yang tak sesuai dengan diri sendiri atau bahkan tak bersyukur pada sang Pencipta, demi memenuhi persepsi komunitas di sekitar kita.

Pelor-Nempel langsung Molor (Tips aman dan nyaman tidur di angkutan umum)

Angkutan umum seperti metro mini, kopaja, bus umum, busway, atau angkot merupakan sarana transportasi relatif murah meriah dan memasyarakat. Sejak SMU saya adalah pelanggan setia angkutan umum, bahkan sampai saat sekarang saya bekerja dan berpenghasilan pun lebih menyukai angkutan umum yang murah meriah daripada naik taxi atau nebeng mobil kawan.

Banyak hal yang bisa dinikmati dengan berkendaraan umum, memperhatikan sesama penumpang, melihat jalanan dan kondisi sekitar dengan lebih leluasa, berbaur dan lebih peka dengan kondisi sosial, membaca buku di angkot, dan satu lagi yang penting buat saya nikmatnya tertidur di angkutan umum.

Berbeda dengan membawa kendaraan sendiri tentunya kita harus berkonsentrasi (masa mau tidur sii…emangnya pake mobil otomatis yang bisa jalan sendiri), atau saat nebeng dengan kawan tentu sangat sungkan jika kita enak-enakan tidur sedangkan dia harus menyetir. Terkadang quality time saat kita tidur di angkutan umum bisa menyegarkan kondisi badan.

Bukan tanpa risiko, tertidur di angkutan umum terkadang mengundang bahaya tersendiri, misalnya ada copet atau penculikan. Jadi sebelum nempel dan menyandarkan tubuh kemudian terlelap di angkutan umum saya berbagi tips aman dan nyaman tidur di angkot:

  1. Perhatikan penumpang sekitar yang mencurigakan. Saat naik kendaraan umum ada baiknya melihat sekilas kondisi penumpang secara keseluruhan, dan melihat lebih detail penumpang di samping kita. Lihat sejenak gelagat mereka. Memang butuh pengasahan feeling dan yang penting ”jam terbang” naik angkot untuk mengestimasi apakah penumpang lain tidak akan bertindak kejahatan kepada kita.
  2. Amankan tas dan bawaan anda. Banyak perempuan-perempuan lengah dengan tas yang dibawanya, jangankan tertidur saat mengobrol pun bisa terjadi pencopetan. Untuk anda yang membawa tas ransel/ tas laptop sebaiknya memeluk/ mendekapnya dan posisi seleting tas dapat tertutupi oleh tangan. Untuk yang membawa tas perempuan, jangan merebahkan tas anda begitu saja, posisikan tas berdiri dan posisi seleting berada di depan, selain itu badan tas anda peluk untuk menghindari tindakan penyiletan tas. Amankan juga bawaan dalam tas terutama handphone taruh di dalam tas yang tidak mudah dijangkau/ dirogoh.
  3. Cowok cakep di depan atau di samping kita. Ya ya ya tak ada yang tahu jodoh bertemu dimana, atau walaupun tidak berjodoh sebagai perempuan penting untuk ”jaim” di depan cowok cakep xixixixi. Jika ada cowok cakep di depan atau di samping kita jagalah posisi tidur untuk tetap tegak.  Saat cowok cakep itu ada di sebelah kita jangan sampe deh nempel2 ke bahunya, meskipun akan terasa nyaman tapi jangan sampe malah membuat citra kita makin buruk dengan ”membuat pulau’ di bajunya, atau panorama gigi berlubang kita tampak jelas oleh si cowok cakep, hadeuh!!!!
  4. Membaca doa sebelum tidur. Well, walaupun sudah mengantisipasi tentulah yang lebih berkuasa adalah Sang Penjaga, jadi baca doa dulu yah sebelum tidur dan minta dalam hati untuk bangun sebelum tempat tujuan terlewati angkutan umum.

Enjoying your time girls, walaupun naek angkot ada banyak kesenangan di dalamnya.

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 2,500 times in 2011. If it were a cable car, it would take about 42 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Melek Inflasi

Kata inflasi pasti sering kita dengar, yang dipahami secara umum dengan inflasi adalah daya beli kita berkurang. Kenapa begitu yah? Apakah harga-harga barang dan komoditas menjadi mahal? Apakah pendapatan masyarakat menurun? Apakah inflasi menujukkan arah ekonomi yang buruk?

Disini saya tidak akan membahas teori ekonomi makro, teori mengenai uang, mengenai apa dan mengapa inflasi bisa terjadi. Secara umum inflasi berarti nilai uang relatif terhadap harga menurun. Simpelnya begini kalo dulu jaman kita SD, uang Rp1.000 bisa beli gorengan sepuluh biji, sekarang Rp1.000  paling bisa beli gorengan dua biji. Mungkin banyak hal yang berpengaruh terhadap daya beli, tetapi yang cukup berpengaruh kuat adalah pengaruh inflasi tiap tahunnya. Uang  yang memiliki nilai nominal jauh di atas nilai intrinsik (nilai bahan pembuat uang itu sendiri) maka nilai relatif uang sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro.

Inflasi di suatu negara merupakan hal yang alamiah, dengan laju inflasi yang berbeda-beda tentunya. Tetapi apakah dampak inflasi ini sudah kita pertimbangkan dalam keberlangsungan hidup kita (bukan berarti dunia ini sangat materialistik yah, tapi ini patut dipertimbangkan loh). Sebagai contoh saya sendiri baru ngeh dengan inflasi ini saat saya duduk di bangku kuliah. Ngeh inflasi bukan karena saya kuliah ekonomi, tetapi karena sangat merasakan dampak inflasi ini ketika uang tabungan saya terasa sangat tidak berarti apa-apa. Saya yang sedari dulu gemar menabung (semoga tidak sombong juga) membiasakan diri untuk menyisihkan uang jajan. Salah satu motif saya menabung adalah untuk mengamankan pendidikan saya, berjaga-jaga jika ortu tidak mempunyai keuangan yang cukup untuk membiayai pendidikan sampai saya sarjana.

Saya tabung sementara di tabungan sekolah, kemudian secara berkala saya menabung di bank (waktu itu bank yang ada di kantor pos). Setelah lulus SD saya ingat berapa nominal yang berhasil dikumpulkan, hasilnya cukup lumayan buat saya, katakanlah Rp500.000, jumlah yang besar untuk saya waktu itu. Dari menabung di bank saya juga mendapat bunga yang cukup lumayan. Saya membayangkan saya mempunyai nilai yang cukup untuk mem-backup dalam menunjang pendidikan.

Kebiasaan menabung masih saya lanjutkan, ceritanya langsung dipercepat yah langsung ke masa kuliah. Saat kuliah saya tersadar, wow ternyata uang saya yang selalu saya tabung tidak bernilai apa-apa. Bisa beli apa dengan uang Rp500.000. Dari sini saya tahu bahwa kebiasaan berhemat dan menabung itu sangat baik, tetapi itu saja tidak cukup. Perlu hal lain untuk melindungi nilai aset kita. Jika kita hanya mengharapkan nilai interest tabungan (atau bagi hasil tabungan syariah), nilai ini sangat tidak sebanding dengan laju inflasi.

Jadi apa yang harus dilakukan? Ada banyak alternatif, mau memutar uang kita di sektor riil (dengan usaha atau investasi langsung), membeli aset properti, atau investasi di sektor finansial. Tidak akan saya bahas detail sekarang, yang penting bahwa kita menyadari bahwa inflasi itu ada dan sering tidak kita antisipasi.

Bijak jika tidak memfungsikan uang sebagai penumpuk harta. Kemaslahatan bersama menjadi pertimbangan utama. Pilihan dan strategi pengelolaan harta penting untuk kita pikirkan dan lakukan. Bertindak cermat dan minta kecukupan rejeki dari Sang Pemberi Rejeki, maka kita menjadi tidak khawatir akan hari esok.

Ogi-Ogah Rugi

Cermat berbelanja, membeli apa yang dibutuhkan, pengeluaran life style disesuaikan dengan kemampuan dan pendapatan. Itu beberapa cara yang sering kita dengar dalam pengelolaan keuangan. Ditulisan ini saya tidak akan membahas hal itu, saya akan membahas hal yang mungkin terlihat simpel, tetapi cukup berpengaruh terhadap kepuasaan berbelanja dan kecermatan pengeluaran uang. Tapi peringatan sebelumnya, hal yang akan saya paparkan dibawah tidak akan terlalu berpengaruh terhadap anda jika tahapan cermat berbelanja, membeli apa yang dibutuhkan, penyesuaian pengeluaran life style belum anda lakukan.

Membayar harga yang tidak sesuai dengan kesepakatan, atau membayar melebihi dari apa yang seharusnya kita bayar. Jika ini anda ketahui belakangan setelah anda membeli dan membayar suatu barang atau jasa, maka rasanya seperti dilakukan ”penipuan”, atau bahkan menyalahkan diri sendiri atas keteledoran.

Pernahkah anda melihat struk setelah anda makan direstoran, dan saat dirumah baru terlihat bahwa ada item makanan/ minuman yang tidak terhidang/ tidak anda makan. Pernahkah anda memperhatikan struk belanja supermarket telah sesuai dengan harga pada display? Hal kecil yang mungkin kita sering kita lupakan, akan tetapi jika anda kemudian tersadar saya yakin timbul perasaan ”ketidakrelaan” walau pun akhirnya berusaha ikhlas. Jadi tidak ada salahnya jika anda bersikap ”Ogah Rugi” dan cermat sebelum membayar. Akan berbeda rasanya jika harta kita diambil paksa dengan kita memberikan sesuatu dengan kesadaran dan sukarela. Jadi berikut tips cermat sebelum membayar:

  1. Perhatikan item barang yang dibeli dengan yang tertera pada struk. Dari yang saya alami, hal ini kerap terjadi di restoran, apalagi jika kita makan rame-rame dengan banyak pesanan. Ada baiknya ada seorang diantara kita atau kawan kita yang mengecek ulang struk/ list makanan yang akan dibayar.
  2. Perhatikan penjumlahan. Di era komputerisasi, hampir sebagian besar struk menggunakan print out komputer atau dihitung menggunakan cashier machine, tetapi jangan salah masih banyak juga loh toko ataupun rumah makan yang menggunakan kalkulator untuk menghitung. Walaupun menggunakan mesin bernama kalkulator tetap saja yang menekan tombol angka adalah tangan manusia, jadi bisa jadi harga per item sudah benar, tetapi penjumlahannya adalah salah. Hal ini sering saya alami di rumah makan kelas menengah. Lakukan penjumlahan di luar kepala, untuk memudahkan jumlahkan angka besarannya saja, sehingga anda tahu perkiraan jumlah yang harus dibayar, walau tidak sama persis. Jika sulit menjumlahkan diluar kepala, jangan gengsi untuk meminjam kalkulatornya dan menghitung ulang, Tapi liat antrian dibealkang loh jangan sampai bikin macet panjang.
  3. Ingat harga pada display/ rak pajangan. Tak semua item barang harus anda ingat harganya sesuai dengan harga yang tertera pada display. Ingatlah barang-barang yang menurut anda harganya signifikan. Saya pernah mengalami beberapa kali di supermarket besar, harga pada rak pajangan tidak sesuai dengan harga pada komputer. Jangan ragu untuk melakukan teguran jika anda yakin harganya tidak sesuai dengan harga pada rak. Katakan pada kasir harga yang anda liat dan mintalah pihak supermarket untuk melihat harga di rak pajangan Dari beberapa protes yang saya lakukan hampir sebagian besar dikabulkan sehingga harga diturunkan sesuai dengan harga pada rak. Jika anda salah mengingat/ salah melihat jangan sungkan untuk meminta maaf.
  4. Perhatikan persentase diskon yang didapat. Di toko buku, departement store atau supermarket biasanya mengelompokan barang sesuai dengan persentase diskon. Ingatlah dari tempat mana atau rak sebelah mana anda mengambil barang. Hal yang pernah saya alami saat di toko buku saya diberi diskon yang tidak sesuai. Kasir mengatakan bahwa buku saya mendapat diskon 25%, padahal saya yakin buku saya diambil di jajaran diskon 30%, maka tak ragu saya tunjukkan rak buku dan jejeran buku dengan judul yang sama di tempat diskon 30%.

Hal-hal kecil diatas mungkin tidak terlalu berpengaruh besar terhadap total nilai yang harus kita bayar, akan tetapi daripada menyesal setelah meninggalkan toko, ada baiknya anda lebih cermat dan teliti sebelum membayar. Oia demi ketertiban bersama lakukan peneguran dengan sopan jangan sampai anda mempermalukan pihak penjual atau anda bahkan akan mempermalukan diri sendiri. Berani mencoba?

Kutu Loncat?????

Apa yang kita pertimbangkan saat memilih pekerjaan? Gaji yang memadai? Bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan? Nama besar perusahaan? Career path yang jelas? Pengembangan diri yang akan didapat dari perusahaan? Waktu kerja yang fleksibel? Kerja yang penuh dengan tantangan? Masih banyak lagi hal-hal yang menjadikan seseorang memilih pekerjaan, posisi dan perusahaan mana dia akan berkarya dan mendapatkan imbalan.

Tulisan ini mungkin lebih cocok untuk kita yang memulai langkah setelah menempuh pendidikan kemudian mencari pekerjaan. Walau sebenarnya banyak peluang bisnis yang dapat diciptakan, saya menghargai juga untuk orang yang memilih bekerja pada perusahaan dahulu untuk kemudian memilih apakah dia akan tetap bekerja atau berbisnis sendiri.

Saya pribadi merupakan kategori orang yang setelah lulus kemudian bekerja pada perusahaan. Salah satu fenomena yang menarik bagi orang yang bekerja adalah keputusan setelah mendapatkan pekerjaan, yaitu kecenderungan untuk berpindah perusahaan/ berpindah kerja dengan berbagai alasan.

Hal yang saya alami, dan juga pengamatan dari rekan-rekan sejawat, kurva yang dialami seorang pekerja mungkin mirip dengan kurva kepuasan, dimana suatu saat akan mencapai titik kejenuhan, dan disaat titik jenuh maupun fase sebelum titik jenuh, kita akan mencari atmosfer lain. Pencarian atmosfer lain bisa jadi dengan mengalihkan perhatian dengan melakukan hal-hal mengasyikan diluar pekerjaan rutin misalnya menekuni hobi, mencari pekerjaan sampingan. Atau alternatif lain yang ditempuh adalah dengan mencari kelompok lain atau berpindah divisi dalam tetapi tetap dalam perusahaan saat ini. Untuk kategori ini adalah orang-orang yang masih mencintai perusahaannya tetapi sudah merasa jenuh dengan timnya saat ini.Kelompok terakhir adalah kelompok yang memilih untuk meninggalkan perusahaan dan mencari pekerjaan yang lebih baik.

Saya pribadi pernah melakukan ketiga hal yang diuraikan diatas pertama mengalihkan perhatian kepada hal diluar pekerjaan, kedua berpindah divisi, dan terakhir meninggalkan perusahaan. Tapi ini bukan berbicara tentang saya sendiri saja loh, tetapi berbicara dengan lingkungan di sekitar kita. Coba perhatikan kaum muda saat ini berbeda dengan era ibu bapak kita atau om dan tante atau atasan kita yang bisa bekerja mengabdi sampai dengan puluhan tahun.

Entah karena kurang rasa bersyukur, atau karena era yang cepat berubah membuat kita cepat jenuh dan selalu mencari pekerjaan yang lebih baik. Tak selamanya ini berbicara tentang better salary, kita bisa berbicara tentang suasana kerja yang kurang bersahabat, atau perusahaan yang kurang mendevelop karyawannya, perusahaan yang memberikan pekerjaan rutin dan kurang menantang, atau sebaliknya perusahaan yang sangat memporsir karyawannya sedangkan ia membutuhkan life balance.

Ah saya sendiri tidak senang dengan istilah kutu loncat, toh tidak semua orang yang berpindah perusahaan untuk membocorkan rahasia perusahaan ia sebelumnya. Salahkah orang yang mencari pekerjaan baru untuk mencari kepuasaan yang kurang dia dapatkan dari perusahaan sebelumnya. Sepertinya perlu pemikiran diantara karyawan dan perusahaan agar bisa melihat lebih detail antara kebutuhan perusahaan dan kebutuhan karyawan. Ok, nanti akan saya bahas lebih lanjut lagi, karena saat ini saya harus bekerja dulu.

What is your style?

Bertas bermerk, atau berbusana masa kini dengan merk ternama juga, lengkap dengan gadget paling canggih. Berapa harga untuk sebuah kata style? Bisa dilihat untuk sebuah harga tas wanita merk ternama original bisa merogeh kocek jutaan rupiah bahkan bisa seharga mobil atau bahkan rumah. Menenteng dengan keren dan penuh gaya. Tuntutan profesi wanita karier, gaya hidup perempuan ibu kota, atau sebuah kepuasan tersendiri yang tak dapat dinilai harganya.

Memakai produk tiruan demi meniru gaya, apakah sebuah tindakan memalukan (dari sudut pandang pemakai loh, abaikan topik pelanggaran trade mark dan hak paten). Atau memakai produk biasa saja dengan merasa percaya diri tetapi tetap merasa risih karena tak mendapat pengakuan dari orang sekeliling.

Haruskah jika menemui relasi atau rekanan pejabat kita harus memaksakan diri dengan memakai busana yang bermerk dan mahal. Pembenaran apakah yang paling pantas? Pertama bahwa pengeluaran sesuai dengan fungsi income, jadi toh tak ada salahnya jika pengeluaran untuk merk pantas dikelurkan saat income tinggi. Pembenaran kedua, tak ada salahnya sedikit memaksakan diri agar diakui menjadi bagian dari komunitas. Pembenaran ketiga karena inilah gaya yang saya sukai “this is my style” (benarkah?)

Pernah membaca dalam sebuah buku, bahwa gaya kelas tinggi tak jauh berbeda dengan mengenakan pakaian militer, yaitu sebagai sebuah identitas dari sebuah kelompok. Tak diakui menjadi anggota militer jika tak berseragam militer. Tak diakui kalangan kelas tinggi tanpa fashion ber merk. Pernyataan yang cukup menggelitik, walau saya tak sepenuhnya membenarkan.

Saya sendiri menulis ini terinspirasi gara-gara ketidak sengajaan membeli tas aspal. Kalau dulu sempat meratapi dan ketidakyakinan gara-gara tas saya berwarna pink (lihat tulisan saya sebelumnya “Empat Tahun Bersamanya”, kali ini ke kurang pas-an membeli tas ini karena baru tersadar setelah membeli tas ini ternyata tiruan tas ber-merk. Urusan merk tas saya tidak terlalu mempertimbangkan, hal yang sangat diperhatikan adalah nyaman digunakan, serta berbahan yang cukup kuat. Hiuh kenapa saya sampai membeli tas dengan merek aspal  “X&X” (apa hayo merknya), jujur membawa nya saya sedikit malu, walo bahannya dan modelnya bagus sudah barang tentu orang akan tau ini adalah tas KW sekian. Bahkan pakai tas asli pun mungkin orang tak kan percaya saya bawa tas asli. Sudahlah akhirnya saya putuskan tidak bersu-udzon terhadap sekitar toh tas ini terlihat bagus dan nyaman saya gunakan, dan bukan karena ingin menyamai tas-tas bermerk.

Mungkin hal-hal yang bermerk dihargai mahal karena ekslusivitasnya serta didukung kualitasnya. Tak ada yang salah saat anda memutuskan untuk bergaya mahal dan selalu bermerk, atau sebaliknya cukup bergaya sederhana. Hanya perlu ditanyakan kembali nyamankah kita menggunakannya, apakah hal itu tidak terlalu meberatkan diri, adakah dampak sosial untuk sekeliling  kita. Tidak memihak yang memutuskan apapun, karena dunia tak akan seru tanpa warna-warni perilaku kehidupan setiap diri kita.

Jadi apa gaya anda sekarang? Gaya ku hari ini mungkin tak akan sama dengan esok hari. Berubah gaya bukan berarti tak konsisten. Tetap bergaya sama bukan berarti tak kreatif dan konservatif. Hanya saja yakinkah diri kita sendiri dengan gaya yang sedang kita gunakan? Well, saya sendiri sedang mencoba menjawabnya, Is it my style?

Saga no Gabai Bachan

Tersenyum, tertawa, terharu, simpati dan empati, ada sejuta rasa yang saya rasakan saat membaca buku ini. Hikmah kehidupan, nilai kesederhanaan, rasa sayang diungkapkan dengan gaya ringan oleh penulisnya. Sebuah kisah nyata mengenai perjalanan hidup seorang anak yang diasuh dan dirawat oleh neneknya.

Pada halaman belakang dituliskan ringkasan buku ini tertulis.

Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom terpaksa berpisah dari ibu untuk tinggal bersama neneknya di Saga. Meskipun keluarganya hidup prihatin, namun kehidupan di Saga satu peringkat lebih miskin. Tetapi sang nenek selalu punya ratusan akal untuk meneruskan kehidupan dan membesarkan cucunya.

Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan selalu mereka jalani penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikan. Namun waktu terus berjalan dan tibalah hari ketika Akihiro harus mengambil keputusan. Dia harus memilih antara nenek dan Saga yang dia cintai atau mengejer mimpi-mimpinya.

Pengarang-Yosichi Shimada berhasil mengetengahkan kisah unik, lucu, namun penuh hikmah. Pada Bab I- Dorongan dari Ibu, menghadirkan rasa haru, perasaan yang dialami oleh seorang anak kecil yang dibodohi orang dewasa (Ibu dan bibi Akihiro) sehingga dia harus terpisah dengan ibunya.

Mulai Bab II saat bertemu dengan neneknya, mulailah kisah unik, kekaguman akan kesederhanaan hidup, dan penyikapan atas berbagai kesulitan dengan perasaan ceria.

Dialog yang paling saya sukai ada pada Bab III;

….”Nek, kita memang miskin sekarang, tapi suatu hari nanti enak juga ya kalau bisa jadi kaya.”

 ”Kau ini bicara apa? Ada dua jalan buat orang miskin.

”Miskin muram dan miskin ceria .

“Kita ini miskin yang ceria.

”Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas.

”Tetaplah percaya diri.

”Keluarga kita memang turun-temurun miskin.

”Pertama, jadi orang kaya itu susah.

”Selalu makan enak, pergi berpelesir, hidupnya sibuk.

”Dan karena selalu berpakaian bagus saat bepergian, bahkan di saat jatuh pun, mereka harus tetap cara memerhatikan cara jatuh mereka.

”Sedangkan orang miskin sejak awal kan selalu mengenakan pakaian kotor. Entah itu saat hujan, saat harus duduk di tanah, mau jatuh, ya bebas, terserah saja.

”Ahh, untung kita miskin.”

 Aku diam.

Lalu, ”Selamat tidur, Nek.”ujarku tanpa tahu harus berkata apa lagi.

Masih banyak kisah lain yang menggelitik, tetapi cukup sekian saya tuliskan agar rasa penasaran anda untuk membacanya lebih tinggi.

Identitas Buku:

Saga no Gabai Bachan

NENEK HEBAT DARI SAGA

Penerbit Kansha Book (a division of Mahda Book)

Cetakan II, May 2001

Tebal :245hal

Originally published by Tokuma Shoten Publishing Co.,Ltd in Japan

 

THE POWER OF LOVE

THE POWER OF LOVE, Memaksimalkan Potensi Ruhani untuk Meraih Kebahagiaan Hidup, sebuah karya yang berjudul asli Al Mahabbah karya Imam Ghazali. Sebuah buku yang menurut saya masuk ke dalam kajian tasawuf. Buku yang relatif tipis tapi sangat berisi. Walaupun saya bukanlah seorang sufi dan bukan penggemar berat buku tasawuf, akan tetapi buku ini sangat memikat dan memberikan pencerahan untuk saya.

Konsep akan cinta, rindu, Tuhan, hamba, manusia dan akalnya, dibahas dengan mendalam, dan membuka cakrawala berpikir para pembacanya. Dalam cover belakang disebutkan (dan saya sepakat akan hal ini) bahwa buku ini menguraikan tentang bagaimana kita mengelola cinta. Pengelolaan ini penting agar cinta yang kita miliki bisa mengantarkan kita kepada kebahagiaan yang abadi. Keabadian hanya akan kita peroleh bila kita memberikan cinta kepada Sang Pemilik Keabadian. Ini bukan berarti kita tidak memberikan cinta kepada selain-Nya. Kita tetap mencintai sesama, mencintai alam, dan mencintai apapun. Hanya kecintaan kita kepada sesama makhluk merupakan wujud cinta kita kepada-Nya.

Anda harus tahu bahwa perkara berwujud yang paling tampak dan nyata adalah Allah. Sebuah pernyataan yang sangat menarik hal ini dipaparkan dengan jelas pada bab “Keterbatasan Manusia Memahami Makrifat”. Berikut sedikit petikan yang dijelaskan pada bab tersebut yang meyakinkan kita akan keberadaan sang Rabb.

“Penyebab suatu perkara tidak terpahami oleh akal kita adalah dua. Pertama, samar dan rumitnya perkara yang bersangkutan, walaupun contohnya tidak samar. Kedua, perkara yang bersangkutan sangat jelas adanya.

Untuk penyebab kedua persis keadaan seekor kelelawar. Ia hanya dapat mellihat di waktu malam tidak di waktu siang. Hal ini terjadi bukan karena tidak ada chaya di siang hari. Tapi, karena penampakan siang terlalu jelas baginya. Sebab, penglihatan kelelawar sangat lemah. Ia dapat dibikin silau oleh cahaya matahari, ketika menyorot. Jadi penampakkan cahaya siang yang sangat kuat, sementara penglihatan kelelawar sangat lemah, adalah penyebab ia tidak dapat melihat di siang hari. Kelelawar tidak dapat melihat sesuatu, kecuali apabila cahaya bercampur dengan kegelapan dengan kadar cahaya yang tidak terlalu terang.

Seperti itulah akal kita. Ia sangat lemah, sementara itu, keindahan Hadirat Ilahi sangat terang, bersinar terang sangat kuat, memukau, dan menyeluruh. Sehingga, tidak ada satu atom pun yang ada di langit dan di bumi yang tidak terkena oleh penampakan-Nya. Lalu penampakan-Nya adalah sebab kesamaran-Nya. Mahasuci Dzat yang terhijab oleh sorot sinar-Nya. Dia tersembunyi dari pandangan kasat mata melalui penampakan-Nya .“(Hal 130-131)

Banyak hal yang dijelaskan dalam buku ini dan mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya. Buku ini membuat kita semakin memahami bahwa cinta adalah sebuah energi. Kekuatannya mampu mendorong orang mau melakukan apapun

Identitas Buku:.

THE POWER OF LOVE

Memaksimalkan Potensi Ruhani untuk Meraih Kebahagiaan Hidup

Diterjemahkan dari Al Mahabbah

Penerbit Dar Al Fikr, Lebanon

Karya Imam Ghazali

Penerjemah: Ija Suntana

Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika)

Cetakan II, Februari 2006

Tebal :258 hal+xi

Mencari Titik Equilibrium

Sendiri walau dalam ruangan dengan banyak orang dan ramai. Jauh dengan dunia sekitar walau dunia ini hanyalah sebesar desa saja. Benarkah banyaknya pengakuan yang kita dapat dari orang-orang di sekliling kita membuat kita semakin dekat dengan mereka. Menjadi insan yang semakin berkulitas dengan berbagai prestasi dan penghargaan?

Adakah korelasi sebuah kesuksesan dengan fungsi kebahagiaan? Apakah ini membentuk korelasi linear, ataukah kesuksesan dan kebahagiaan merupakan fungsi tersendiri yang saling bergerak satu sama lain, seperti garis supply& demand dan akan pada titik equilibriumnya menjadikan kita seorang pribadi yang paripurna. Paripurna sebagai insan pribadi dan insan sosial.

Hem ukuran kesuksesan itu apa, saya pun masih ragu, tetapi yang saya tahu orang sukses adalah orang dengan materiil yang memadai bahkan berlimpah, keluasan ilmu, kekuatan pengaruh, segala hal yang terkadang membuat silau orang yang melihatnya. Lantas apakah bahagia itu? Hal yang saya pahami saat ini bahagia merupakan sebuah keikhlasan dan menyikapi apa yang telah terjadi, gairah menjalani hari ini, dan kekhawatiran yang minimal akan apa yang terjadi esok hari. Entah definisi kesuksesan dan kebahagiaan yang saya ungkapkan tersebut beanr atau tidak, setidaknya itulah yang saya pahami saat ini.

Benarkah sesuatu yang banyak membuat kita lebih senang, entahlah yang jelas saya sering merasa kebingungan jika memiliki sumber daya yang terbatas. Tetapi rasa kebersyukuran kadang terlupakan saat saya memiliki sesuatu yang banyak dan menjadikannya hal yang sepele dan tidak berharga lagi. Saya merasakan sering melewatkan kebersyukuran dan penyikapan positif atas banyak hal. Saya yang meminta banyak, tak bersyukur saat diberi banyak, saya yang tak meminta diberi hal yang tak diminta, tapi tak menyadari telah diberi.

Bukan ukuran kaya atau miskin yang menjadikan saya dan kamu lebih bahagia, bukan pula orang-orang yang menghargai diri ini menjadikan saya dan kamu lebih bahagia. Lantas untuk apa berusaha jika tinta takdir telah mengering, buku jalan kehidupan telah terbit jauh sebelum kita tercipta di dunia. Adakah halaman yang masih tersisa dalam buku itu? Adakah tinta yang masih tersedia untuk menggoreskan  kembali jalan kehidupan ini?

Tak ada yang sia-sia dengan usaha dan doa. Aku percaya bahwa Rabbku menciptakan setiap insan dengan unik, tak ada yang sama dari insan penghulu zaman sampai akhir zaman nanti. Setiap diri ini memilki pemikiran, dan preferensi yang berbeda-beda. Tak ada yang salah jika saya atau kamu memilih untuk ingin menjadi orang kaya, orang pintar, pemimpin yang tangguh, ataukah lebih memilih untuk menjadi diri yang sederhana tak banyak harta untuk memudahkan proses hisab nanti. Pilihlah berbagai hal yang membuat kita akan lebih ikhlas dan berbahagia.

Humph terkadang ada rasa takut saat mata akan terpejam, aku sulit untuk mengingat siapa aku dan Rabbku. Tapi rasa takut hanyalah takut semata, dan sering lewat begitu saja. Sampai saat ini belum kuyakini dengan pasti adakah suatu hubungan antara kesuksesan dan kebahagiaan.Ingin rasanya sebuah kontemplasi menjadikan otak ini berpikir lebih jernih, dan hati ini menjadi lebih ikhlas. Mencari titik equilibrium antara kesuksesan dan kebahagiaan. Aku dan kamu yang tak pernah lelah untuk menjadi lebih baik.

 

 

NB: Mohon maaf jika tulisan ini terlalu berkesan menggurui atau sok bijak, hanya ingin berbagi pemikiran.