Kategori : Prosa
Penulis : di kutip dari karya Nizami
Cerita Laila Majnun merupakan salah satu kisah cinta yang sangat populer dan beragam vesi telah muncul dalam bentuk prosa,puisi, dan lagu. Membaca salah satu buku tentang Laila Majnun yaitu dalam buku Laila: Kisah Cinta Abadi Sang Pecinta dan Kekasih, yang diterbitkan oleh Oase Mata Air Makna Cetakan XII, Juli 2010, saya sangat terkesan dengan setiap pemilihan kata dalam buku ini, terutama untuk syair-syairnya. Berikut beberapa cuplikan syair-syair dalam buku tersebut.
Hal 80
Duka di hatiku tak kau hiraukan,
Tangis di mataku tak kau pedulikan.
Dari banyak janji yang kau ucapkan,
Tak satu pun yang kau tunaikan.
Kau bersumpah membuat dahagaku terpuaskan.
Semua sumpahmu kini kau campakkan.
Mengapa sumurmu dulu kau tampakkan,
Jika isinya hanya kutukan.
Hal 136
Kau penyebab sekaratku berkepanjangan,
Tetapi hasratku padamu membuat kau kumaafkan.
Kaulah sang matahari sementara aku bintang malam,
Cahayamu menyurutkan kerlipku yang kelam.
Nyala lilin iri padamu,
Bunga mawar merekah dalam namamu.
Terpisah darimu? Tidak akan pernah!
Cinta dari kesetianku hanya untukmu. Aku bersumpah!
Walau tersiksa, aku akan tetap menjadi sasaran cambukmu.
Ketika mati, aku adalah darah yang mengalir di nadimu.
Hal 225
Bilamana taman meriah oleh mawar-mawar merah, betapa
cocoknya menyandingkan dengan anggur merah delima.
Aku heran, untuk siapa mawar mengoyak pakaiannya?
Untuk cinta sang sang kekasih, kukoyak pakaianku sendiri!
Bukankah mangsa yang malang menjerit akan ketidakadilan?
Lalu mengapa meributkan halilintar?
Jika korbanny adalah aku!
Bagaikan tetes hujan di saat matahari terbit yang jatuh menetes pada kelopak melati,
Pada pipi sang kekasih, air mataku bercucuran.
Tulip yang memerah diseluruh daratan bagaikan batu delima.
Pencuri mana yang telah merampas intan milikku?
Pepohonan menebarkan wanginya dalam aroma bunga,
Hingga aroma Khotan tak bisa bernapas dallam kekaguman.