What is your style?

Bertas bermerk, atau berbusana masa kini dengan merk ternama juga, lengkap dengan gadget paling canggih. Berapa harga untuk sebuah kata style? Bisa dilihat untuk sebuah harga tas wanita merk ternama original bisa merogeh kocek jutaan rupiah bahkan bisa seharga mobil atau bahkan rumah. Menenteng dengan keren dan penuh gaya. Tuntutan profesi wanita karier, gaya hidup perempuan ibu kota, atau sebuah kepuasan tersendiri yang tak dapat dinilai harganya.

Memakai produk tiruan demi meniru gaya, apakah sebuah tindakan memalukan (dari sudut pandang pemakai loh, abaikan topik pelanggaran trade mark dan hak paten). Atau memakai produk biasa saja dengan merasa percaya diri tetapi tetap merasa risih karena tak mendapat pengakuan dari orang sekeliling.

Haruskah jika menemui relasi atau rekanan pejabat kita harus memaksakan diri dengan memakai busana yang bermerk dan mahal. Pembenaran apakah yang paling pantas? Pertama bahwa pengeluaran sesuai dengan fungsi income, jadi toh tak ada salahnya jika pengeluaran untuk merk pantas dikelurkan saat income tinggi. Pembenaran kedua, tak ada salahnya sedikit memaksakan diri agar diakui menjadi bagian dari komunitas. Pembenaran ketiga karena inilah gaya yang saya sukai “this is my style” (benarkah?)

Pernah membaca dalam sebuah buku, bahwa gaya kelas tinggi tak jauh berbeda dengan mengenakan pakaian militer, yaitu sebagai sebuah identitas dari sebuah kelompok. Tak diakui menjadi anggota militer jika tak berseragam militer. Tak diakui kalangan kelas tinggi tanpa fashion ber merk. Pernyataan yang cukup menggelitik, walau saya tak sepenuhnya membenarkan.

Saya sendiri menulis ini terinspirasi gara-gara ketidak sengajaan membeli tas aspal. Kalau dulu sempat meratapi dan ketidakyakinan gara-gara tas saya berwarna pink (lihat tulisan saya sebelumnya “Empat Tahun Bersamanya”, kali ini ke kurang pas-an membeli tas ini karena baru tersadar setelah membeli tas ini ternyata tiruan tas ber-merk. Urusan merk tas saya tidak terlalu mempertimbangkan, hal yang sangat diperhatikan adalah nyaman digunakan, serta berbahan yang cukup kuat. Hiuh kenapa saya sampai membeli tas dengan merek aspal  “X&X” (apa hayo merknya), jujur membawa nya saya sedikit malu, walo bahannya dan modelnya bagus sudah barang tentu orang akan tau ini adalah tas KW sekian. Bahkan pakai tas asli pun mungkin orang tak kan percaya saya bawa tas asli. Sudahlah akhirnya saya putuskan tidak bersu-udzon terhadap sekitar toh tas ini terlihat bagus dan nyaman saya gunakan, dan bukan karena ingin menyamai tas-tas bermerk.

Mungkin hal-hal yang bermerk dihargai mahal karena ekslusivitasnya serta didukung kualitasnya. Tak ada yang salah saat anda memutuskan untuk bergaya mahal dan selalu bermerk, atau sebaliknya cukup bergaya sederhana. Hanya perlu ditanyakan kembali nyamankah kita menggunakannya, apakah hal itu tidak terlalu meberatkan diri, adakah dampak sosial untuk sekeliling  kita. Tidak memihak yang memutuskan apapun, karena dunia tak akan seru tanpa warna-warni perilaku kehidupan setiap diri kita.

Jadi apa gaya anda sekarang? Gaya ku hari ini mungkin tak akan sama dengan esok hari. Berubah gaya bukan berarti tak konsisten. Tetap bergaya sama bukan berarti tak kreatif dan konservatif. Hanya saja yakinkah diri kita sendiri dengan gaya yang sedang kita gunakan? Well, saya sendiri sedang mencoba menjawabnya, Is it my style?

Saga no Gabai Bachan

Tersenyum, tertawa, terharu, simpati dan empati, ada sejuta rasa yang saya rasakan saat membaca buku ini. Hikmah kehidupan, nilai kesederhanaan, rasa sayang diungkapkan dengan gaya ringan oleh penulisnya. Sebuah kisah nyata mengenai perjalanan hidup seorang anak yang diasuh dan dirawat oleh neneknya.

Pada halaman belakang dituliskan ringkasan buku ini tertulis.

Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom terpaksa berpisah dari ibu untuk tinggal bersama neneknya di Saga. Meskipun keluarganya hidup prihatin, namun kehidupan di Saga satu peringkat lebih miskin. Tetapi sang nenek selalu punya ratusan akal untuk meneruskan kehidupan dan membesarkan cucunya.

Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan selalu mereka jalani penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikan. Namun waktu terus berjalan dan tibalah hari ketika Akihiro harus mengambil keputusan. Dia harus memilih antara nenek dan Saga yang dia cintai atau mengejer mimpi-mimpinya.

Pengarang-Yosichi Shimada berhasil mengetengahkan kisah unik, lucu, namun penuh hikmah. Pada Bab I- Dorongan dari Ibu, menghadirkan rasa haru, perasaan yang dialami oleh seorang anak kecil yang dibodohi orang dewasa (Ibu dan bibi Akihiro) sehingga dia harus terpisah dengan ibunya.

Mulai Bab II saat bertemu dengan neneknya, mulailah kisah unik, kekaguman akan kesederhanaan hidup, dan penyikapan atas berbagai kesulitan dengan perasaan ceria.

Dialog yang paling saya sukai ada pada Bab III;

….”Nek, kita memang miskin sekarang, tapi suatu hari nanti enak juga ya kalau bisa jadi kaya.”

 ”Kau ini bicara apa? Ada dua jalan buat orang miskin.

”Miskin muram dan miskin ceria .

“Kita ini miskin yang ceria.

”Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas.

”Tetaplah percaya diri.

”Keluarga kita memang turun-temurun miskin.

”Pertama, jadi orang kaya itu susah.

”Selalu makan enak, pergi berpelesir, hidupnya sibuk.

”Dan karena selalu berpakaian bagus saat bepergian, bahkan di saat jatuh pun, mereka harus tetap cara memerhatikan cara jatuh mereka.

”Sedangkan orang miskin sejak awal kan selalu mengenakan pakaian kotor. Entah itu saat hujan, saat harus duduk di tanah, mau jatuh, ya bebas, terserah saja.

”Ahh, untung kita miskin.”

 Aku diam.

Lalu, ”Selamat tidur, Nek.”ujarku tanpa tahu harus berkata apa lagi.

Masih banyak kisah lain yang menggelitik, tetapi cukup sekian saya tuliskan agar rasa penasaran anda untuk membacanya lebih tinggi.

Identitas Buku:

Saga no Gabai Bachan

NENEK HEBAT DARI SAGA

Penerbit Kansha Book (a division of Mahda Book)

Cetakan II, May 2001

Tebal :245hal

Originally published by Tokuma Shoten Publishing Co.,Ltd in Japan