Relativitas dan Persepsi

Dari zaman saya SD sampai saat ini saya tidak terlalu menyukai menggambar. Hem sesungguhnya bukan anti menggambar atau bagaimana. Untuk menggambar kebutuhan sendiri atau kepuasaan sendiri saya sering melakukannya, misalnya saat rapat membosankan saya menggambar, atau saat sedang stress kecil saya beristirahat sejenak untuk menggambar atau mewarnai. Jadi lebih tepatnya tidak suka jika menggambar, kemudian dilihat orang dan kemudian dinilai.

Awalnya sejak SD saya yang sering mendapat nilai kurang baik saat pelajaran menggambar. Bukan lari dari kenyataan bahwa saya tidak bisa menggambar, entah pemikiran dari mana saya beranggapan bahwa menggambar bagus, jelek sangatlah relatif. Apakah gambar yang baik adalah yang mirip dengan objek asli, pewarnaan yang rapi, si Ine kecil merasa menggambar adalah penyaluran pemikiran dan perasaan pribadi, dan free style aja deh.

Ine remaja yang mulai lebih lebar cakrawalnya, baru melihat lukisan abstrak, surealis, dekoratif, dll. Dunia mulai terbuka bahwa pencipta gambar bebas berkreasi apapun. Penonton dan penikmat gambar pun bebas ber opini. Walau sampai sekarang pun masih tidak mengerti bagaimana cara penilai seni menyatakan lukisan abstrak ini bagus dan bernilai seni tinggi dan sesame abstrak lainnya dinilai biasa saja…humph ternyata sesuatu yang relatif pun penilaiannya masih dibentuk oleh opini beberapa orang yang dianggap ahli.

Melihat kehidupan nyata, kita menyatakan wanita cantik, pria tampan, binatang imut, menjijikan (dan masih banyak lagi) lahir dari pembentukan persepsi dan opini yang berulang-ulang. Penilaian itu pun sangat relatif bagi sekelompok orang di area geografis tertentu dan kelompok lainnya.  Wanita cantik bagi kita umumnya adalah tinggi semampai, langsing,  kulit putih, rambut sehat terawat. Bagi masyarakat di belahan dunia lain menilai wanita cantik adalah berkulit coklat, eksotis. Bagi saya ular adalah binatang menjijikan, tapi bagi penyukanya ular adalah binatang menggemaskan.

Dunia penuh persepsi dan relativitas, hak Pencipta untuk menciptakan keunikan. Lantas kenapa kita selalu berlelah diri menjadi pribadi yang tak sesuai dengan diri sendiri atau bahkan tak bersyukur pada sang Pencipta, demi memenuhi persepsi komunitas di sekitar kita.

Pelor-Nempel langsung Molor (Tips aman dan nyaman tidur di angkutan umum)

Angkutan umum seperti metro mini, kopaja, bus umum, busway, atau angkot merupakan sarana transportasi relatif murah meriah dan memasyarakat. Sejak SMU saya adalah pelanggan setia angkutan umum, bahkan sampai saat sekarang saya bekerja dan berpenghasilan pun lebih menyukai angkutan umum yang murah meriah daripada naik taxi atau nebeng mobil kawan.

Banyak hal yang bisa dinikmati dengan berkendaraan umum, memperhatikan sesama penumpang, melihat jalanan dan kondisi sekitar dengan lebih leluasa, berbaur dan lebih peka dengan kondisi sosial, membaca buku di angkot, dan satu lagi yang penting buat saya nikmatnya tertidur di angkutan umum.

Berbeda dengan membawa kendaraan sendiri tentunya kita harus berkonsentrasi (masa mau tidur sii…emangnya pake mobil otomatis yang bisa jalan sendiri), atau saat nebeng dengan kawan tentu sangat sungkan jika kita enak-enakan tidur sedangkan dia harus menyetir. Terkadang quality time saat kita tidur di angkutan umum bisa menyegarkan kondisi badan.

Bukan tanpa risiko, tertidur di angkutan umum terkadang mengundang bahaya tersendiri, misalnya ada copet atau penculikan. Jadi sebelum nempel dan menyandarkan tubuh kemudian terlelap di angkutan umum saya berbagi tips aman dan nyaman tidur di angkot:

  1. Perhatikan penumpang sekitar yang mencurigakan. Saat naik kendaraan umum ada baiknya melihat sekilas kondisi penumpang secara keseluruhan, dan melihat lebih detail penumpang di samping kita. Lihat sejenak gelagat mereka. Memang butuh pengasahan feeling dan yang penting ”jam terbang” naik angkot untuk mengestimasi apakah penumpang lain tidak akan bertindak kejahatan kepada kita.
  2. Amankan tas dan bawaan anda. Banyak perempuan-perempuan lengah dengan tas yang dibawanya, jangankan tertidur saat mengobrol pun bisa terjadi pencopetan. Untuk anda yang membawa tas ransel/ tas laptop sebaiknya memeluk/ mendekapnya dan posisi seleting tas dapat tertutupi oleh tangan. Untuk yang membawa tas perempuan, jangan merebahkan tas anda begitu saja, posisikan tas berdiri dan posisi seleting berada di depan, selain itu badan tas anda peluk untuk menghindari tindakan penyiletan tas. Amankan juga bawaan dalam tas terutama handphone taruh di dalam tas yang tidak mudah dijangkau/ dirogoh.
  3. Cowok cakep di depan atau di samping kita. Ya ya ya tak ada yang tahu jodoh bertemu dimana, atau walaupun tidak berjodoh sebagai perempuan penting untuk ”jaim” di depan cowok cakep xixixixi. Jika ada cowok cakep di depan atau di samping kita jagalah posisi tidur untuk tetap tegak.  Saat cowok cakep itu ada di sebelah kita jangan sampe deh nempel2 ke bahunya, meskipun akan terasa nyaman tapi jangan sampe malah membuat citra kita makin buruk dengan ”membuat pulau’ di bajunya, atau panorama gigi berlubang kita tampak jelas oleh si cowok cakep, hadeuh!!!!
  4. Membaca doa sebelum tidur. Well, walaupun sudah mengantisipasi tentulah yang lebih berkuasa adalah Sang Penjaga, jadi baca doa dulu yah sebelum tidur dan minta dalam hati untuk bangun sebelum tempat tujuan terlewati angkutan umum.

Enjoying your time girls, walaupun naek angkot ada banyak kesenangan di dalamnya.