TELAGA

Di tepian telaga ini kulihat seberkas cahaya

Memperlihatkanku sosok gadis riang

penuh mimpi walau dunia keras menempanya

Air telaga ini terpancar seberkas senyum

membalas berbagai ironi yang menyapanya

Matahari meninggi

terpaan kehangatan berubah menjadi terik menyengat tubuhku

Riak air merubah sosok gadis pagi hari menjadi perempuan dewasa

Air mukanya penuh tanya terkadang kecemasan

Beribu bimbang ragu atas jalan yang dipilih

Berjuta topeng kepalsuan telah ditemui

Di tepian telaga ini aku masih duduk termenung

Melihat rona wajahnya kini telah memancarkan

sebuah keberanian melihat dunia

tekad membara menggapai cita

menghujam kuat dalam diri

Terhenyak aku terbangun dan berdiri menantang dunia

By inedwiyanti Posted in Fiction

Deras Hujan

Biarlah air mata ini mengalir deras

karena aku takut ada setetes air mata di pipimu

Aku tak ingin hati ini menjadi kecil

atas sebuah kesempitan ini

Andai kau tahu,

aku tak kuasa membantahmu

Walau itu untuk sebuah langkah kecil yang kuinginkan

langkah yang kuharap mendekatkanku mewujudkan mimpi indah

Mengapa ini semakin tak kupahami

tak ingin sebuah keterpaksaan

dan sesal buah ketidakikhlasan

***

Bandung, 28 April 2011

Saat melihat awan tebal, air tumpah dari langit

By inedwiyanti Posted in Fiction

DINAMIKA

Kemarin mentari memelukku hangat
sehangat pelukan ibu
Kini mentari malu
didekap sang awan yang tak ingin sendiri
Esok aku ingin mentari ditemani pelangi
bersama awan dan hembusan angin
Dulu aku melihat segurat wajah tulus, sorot mata yang teduh dan dalam
Kemarin aku melihatmu gurat wajahmu menjadi rumit, dan congkak, walau kulihat matamu menyisakan cahaya keteduhan
Aku belum melihatmu kini, kelak jika aku melihatmu aku dapat wajahmu yang bersinar, ceria denga segenap ketulusanmu
Kemarin lusa malam mendekapku dengan erat,membuatku terlalu nyenyak dan lupa
Semalam malam hanya memeluku lembut, memberikan kesempatan padaku untuk terbangun lebih awal
Aku merasakan tak selamanya dunia ini indah
Tak selamanya kehidupan ini ramah
Tapi mata ini ingin melihatnya tetap indah
Dinamika kehidupan yang berliku adalah sebuah keindahan.

Ine Dwiyanti
21 April 2011

By inedwiyanti Posted in Fiction

Kami sedang Sibuk (Kering)

Kategori: Puisi bebas
Penulis : Ine Dwiyanti

Mentari kali ini sangat sibuk mencambuki punggungku
menjilatinya hingga hitam ini semakin pekat
Udara kali ini telalu acuh untuk menyapa diri ini
Bahkan dengan sebuah sepoi yang menyibak rambut
Daun-daun terlalu sibuk untuk menyusun dan merangkai diri
kali ini daun sedang melaksanakan perintah batangnya
daun sibuk untuk mengugurkan diri
Awan bahkan tak mau berkumpul
sedikit menanungi kami
Aku sibuk mengacuhkan keadaan
tidak bukan mengacuhkan keadaan
Lebih tepat sibuk untuk mengalihkan pikiran ini
melihat diriku, melihat kamu, melihat jiwa kita
dalam sebuah kekeringan berkepanjangan.
Berharap hujan pada siapa
adakah hujan masih tersisa untuk kami
kami yang telah melupakan
masihkah aku pantas berharap
pada saat janji ini telah banyak dilanggar
Berharap hujan sesaat menghapus aku
Aku yang dulu dan saat ini
Kering.
***
Ine, ditulis saat cuaca mendung (gak nyambung sama puisi)

By inedwiyanti Posted in Fiction

Wisata Ekspress

Apakah berlari bersama pelari tangguh, membuat kita berlari lebih cepat
dibanding berlari sendiri dan mendapatkan kepuasannya
Apakah mengejar mimpi untuk menjadi lebih dari seseorang
akan menjadi lebih sukses
dibanding mengejar mimpi sepenuh hati dan penuh kerelaan
Apakah aku mengejar menggapai titik
Apakah aku sedang menikmati perjalanan menuju sebuah titik itu
jika aku menikmati perjalanan ini
apakah akan membuat lupa untuk menggapainya
Mengapa merisaukan akan ketidaktercapaian
jika aku sedang berusaha keras meraihnya
ataukah memang aku sedang berbuat biasa saja dan alakadarnya
Bukan, bukan berbuat seadanya
Tapi bekerja keras dan berlari terus, menikmatinya
Walau tak ada siapapun di depan, di samping, bahkan di belakangku
Sebuah wisata ekspress
Berlari untuk mendapat berbagai pelajaran hidup yang singkat

By inedwiyanti Posted in Fiction

Interupsi

Saat mengejar mimpi di interupsi oleh sebuah contingency
contingency di masa depan yang probability dan arahnya tak tahu pasti
Saat comfort zone dinterupsi oleh sebuah kesempatan
kesempatan yang belum dicermati baik dan buruknya
Saat membangun asa diinterupsi oleh kepentingan
karena setiap pribadi tertarik oleh kepentingan lingkunganya
Saat berlari dan mengejar suatu titik di interupsi tikungan
kini mata beralih karena simpang jalan didepan lebih menarik
karena terlalu banyak kepentingan
karena kita tidak konsisten
karena takdir terkadang mengarahkan jalan lain
Membuat kita ragu atas apa yang telah dipilih
Jalan ini telah dipilih
tinta telah digoreskan
Berharap jalan ini lebih baik
atau berharap akan ada interupsi lagi
mengarahkan ke jalan yang lebih baik

By inedwiyanti Posted in Fiction

Perjanjian yang Berat

Ini adalah sebuah perjanjian yang berat
Antara dua insan manusia
Ini bukanlah sebuah ikatan cinta belaka
Bukan pula ikatan kepentingan semata
Ini pula yang dijadikan legalitas semata
Ada pula insan yang enggan melakukkannya
enggan mengikuti sunnah rasulnya sampai akhir hayat tiba
Ini ada karena sang Rabb memenuhi janjinya
Memasangkan setiap makhluk ciptaanNya
Karena sang insan dengan segala kesadarannya
Untuk menyempurnakan imannya
Ini adalah hal yang dinanti oleh setiap pria dan wanita yg telah memasuki masanya
Pria dan wanita yang ingin menundukkan pandangannya

By inedwiyanti Posted in Fiction

Dialog di Akhir Malam

Menanti mentari saat malam disinari rembulan
Rembulan tak muncul karena tak diinginkan
Yang ada hanya bintang gemintang
Mengharap rembulan menemani bintang
Bintang enggan bersinar karena tak diharapkan
Malam gelap sunyi diselingi suara burung malam
Malam sunyi kosong tanpa burung, karena bintang yang kau impikan
Kosong, sunyi, senyapnya malam
Lelah berkontemplasi tak menentu
Air dingin membasuh tangan, kening, sampai kakinya
Menghamparkan sajadah
Menegakkan badan menghadap kiblat
Mengharap dialog dengan Rabbnya di akhir malam
Semburat merah kemudian mengawali subuh
Sang mentari tersipu malu bergairah ditemani kumandang adzan
Hamdallah sang mentari kembali bersinar
Mengharap berkah terlimpah pada sang hamba

By inedwiyanti Posted in Fiction

Dimensi

Karena kita mencari yang tak ada
padahal itu terkadang sangat nampak dan nyata
hanya mata ini, indera ini yang tak mengenalinya
Karena kita mencari kepuasan
padahal kita tidak mengerti hakikat kepuasan
dan tak pernah puas atas apa yang telah digenggam
Karena kita mencari eksistensi
padahal keberwujudan ada karena ketiadaan
dan eksistensi diri bergantung eksistensi makhluk lainnya
Karena kita mencari pengakuan
padahal kita sering salah mendengar
atau tak mau mendengar
Karena kita manusia
karena kita berakal dan bersyahwat
karena kita dinamis dan tak mau terhenti
walau dimensi ini suatu saat akan menghentikan kita
dan melemparkan kita pada dimensi yang lain.

By inedwiyanti Posted in Fiction

Dinda (Ini bukanlah akhir segalanya)

Kali ini saya tulis sebuah cerita pendek, sebuah fiksi, walau saya kategorikan di blog ini “Life Experience” karena kategori di blog saya baru ada dua (Research or Life Experience), mungkin di lain kesempatan saya perlu re-categorize tulisan-tulisan saya, karena isinya gadogado (bervariasi).

Kategori: Fiksi, Cerita Pendek
Penulis : Ine Dwiyanti
Total kata : 635

Dinda (Ini bukanlah akhir segalanya)

Sekali lagi aku buka dan kulipat kembali secarik kertas ini. Ah, entah berapa kali aku membukanya, 10, 20, 30, lebih bahkan mungkin sampai seratus kali, berharap tulisan didalamnya berubah, atau berharap ini adalah sebuah mimpi buruk. Ternyata ini tetap tak merubah keadaaan. continue reading

By inedwiyanti Posted in Fiction