Rencanakan, Optimalkan Sumber Daya, Tetap Fokus!


Penulis : Ine Dwiyanti
Kategori : Cerita Hikmah

Rencanakan, Optimalkan Sumber Daya, Tetap Fokus!

Tiba-tiba terlintas dalam benak saya akan suatu cerita rakyat China yang saya baca di majalah Bobo saat saya SD dulu (catatan: Ibu saya rajin membelikan bacaan murah dengan membeli majalah saat sudah out of date). Cerita yang kembali menggugah saya tentang pentingnya sebuah perencanaan dan tetap fokus dalam mencapai tujuan. Berikut intisari ceritanya

Alkisah seorang Bapak akan menuju desa tetangga yang cukup jauh letaknya. Dia harus membawa anak lelakinya, sedangkan kendaraan yang dimiliki adalah hanya seekor keledai kurus. Semalam Bapak itu menyusun rencana, dan menyiapkan bekal secukupnya. Di pagi hari keesokan harinya, Bapak mengajak anaknya untuk berangkat, Bapak itu menaiki keledai, sedangkan anaknya berjalan kaki. Anak itu merasa sangat heran akan tetapi ia percaya kepada ayahnya. Di perjalanan tampak beberapa orang mencemooh dia bahwa dia seorang bapak yang kejam dan tidak tahu diri, anaknya berjalan kaki sedangkan ia menaiki keledai.

Anaknya bertanya: “Wahai Ayah, kenapa engkau meyuruhku berjalan kaki, bolehkah aku turut serta menaiki keledai.”

Bapak itu berkata,” Tidak anakku, jangan kau hiraukan cemoohan orang tetaplah berjalan dulu, karena aku lebih tahu perjalanan ini.”

Kemudian setelah sepertiga perjalanan terlewati Bapak itu menyuruh menyuruh anaknya menaiki keledai, sedangkan dia berjalan kaki. Di perjalanan, beberapa orang yang melihat memandang aneh, dan seorang ibu mengatakan: “Hai Bapak, kau didik anakmu untuk tidak sopan, anakmu diatas keledai sedangkan engkau berjalan kaki”.

Anak bapak itu menjawab. “Wahai Ayah, haruskah aku turun dari keledai ini, atau mengapa engkau tidak turut menaiki keledai bersama.”

Bapak itu menjawab” Ananda tetaplah duduk dan aku berjalan dahulu, karena aku sudah tahu perjalanan ini masih panjang”.

Bapak dan anak melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan cemoohan Ibu tadi. Kemudian setelah dua pertiga perjalanan Bapak itu menyuruh anaknya turun dan berjalan bersama, dan keledainya ia tuntun. Lagi-lagi orang yang melihatnya mencemooh, mempunyai kendaraan tapi kok tidak dimanfaatkan.

Seorang anakmuda menegur bapak itu, “Bapak, mengapa tidak kau manfaatkan keledai yang kau miliki itu.”

Sang anak, kembali bertanya pada ayahnya, “Ayahanda, haruskah kita menaiki kembali keledai ini.”

Bapak menjawab, “Tidak anakku, keledai kita sudah cukup lelah, kita lanjutkan perjalanan dengan berjalan dan menuntun keledai.”

Akhirnya bapak dan anak itu sampai di desa tetangga dengan tepat waktu sesuai rencanana sang Ayah.

Cerita rakyat China (mungkin fiksi atau kisah nyata), tersebut sangat menggugah saya, dan masih saya ingat sampai saat ini. Mengaitkan dalam hal itu, satu cuplikan perjalanan hidup ini, saya ingin memberikan sebuah apresiasi untuk ibu saya yang relative sukses mewujudkan salah satu mimpinya.

Salah satu cita-cita ibu saya adalah untuk menyekolahkan kedua anaknya sampai minimalaS1 (catatan: ibu saya adalah seorang tamatan SMA dan menginginkan anaknya lebih darinya). Ibu menyadari bahwa kondisi keuangan kami tidaklah berlebih, sehingga dia harus mengatur sebaik mungkin keuangan keluarga.

Sewaktu SD saya lulus dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM)  memuaskan, sebagai anak-anak tentunya saya ingin memasuki SMP favorit, Akan tetapi tidak disangka ibu memasukkan saya ke SMP dekat rumah dengan grade SMP tersebut sangat rendah (mungkin termasuk 10 terbawah). Alasan ibu ku waktu itu adalah agar aku tidak kecapek-an sekolah. Memang di SMP saya ini saya hanya naik sepeda atau berjalan kaki, dan SPP atau uang sekolah terbilang sangat murah.

Walau saya masuk di SMP yang jauh dari idaman saya, dan bersama teman-teman yang lebih banyak tidak bersemangat dlam belajar, saya berusaha untuk tetap rajin. Untunglah ada beberapa teman yang memiliki semangat belajar cukup baik. Saat SMP pula saya membangun cita-cita untuk menjadi seorang Akuntan, berkat ibu guru muatan lokal (Ibu Niknik, kami memanggil beliau) yang mulai memperkenalkan mata pelajaran akuntansi dan pembukuan.

Lulus SMP, Alhamdulillah saya memperoleh NEM yang cukup memuaskan, setidaknya saya bisa masuk di SMA dengan peringkat ketiga terbaik di kota kami. Kembali ibu saya mempunyai rencana lain, ibu memasukkan saya ke SMA dengan grade menengah. Alasan ibu saya, bahwa saya akan sulit beradaptasi jika di SMA favorit yang lebih banyak orang kaya, alasan kedua adalah agar naik angkot cukup sekali saja, dan alasan ketiga agar saya bisa ranking satu di SMA dan mendapatkan beasiswa gratis untuk anak berprestasi.

Kembali, saya berusaha menjalaninya. Kini saya memahami bahwa di SMA saya ternyata dapat membuat ibu saya menghemat banyak, karena SPP di sekolah favorit nilainya lebih mahal dari 8 kali dari SPP di SMA saya. Alhamdulillah selulus SMA saya bisa masuk SPMB di Akuntansi Unpad, dan mengantarkan saya sampai meraih gelar Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi. Terimaksih ibu yang telah mengatur keuangan dengan baik sehingga kami kedua anaknya dapat meraih S1.

Dari cuplikan kisah rakyat China dan planning ibu saya, saya bisa mengambil hikmah bahwa kita harus memiliki perencanaan dan mengoptimalkan sumberdaya yang kita miliki. Tetap fokus, dan memohon kepada Allah untuk memberikan yang terbaik.

Kini saya harus membuat rencana apa yang ingin saya capai, sumberdaya apa yang bisa saya optimalkan, dan bismillah tetap fokus dan yakin menggapai cita-cita.

4 thoughts on “Rencanakan, Optimalkan Sumber Daya, Tetap Fokus!

  1. Oooo baru tau, ine bercita-cita jadi akuntan sejak smp, wkwkwk. Aa mah baru tau akuntasi teh sma.baydewey, Alhamdulillah, kita dilahirkan dari rahim seorang ibu yang memahami, fokus, penuh kasih (walo sering marahin, dan memukul ku, hikss) yang menuntun kita menjadi sarjana dan bisa mandiri.

    Kita juga harus bersyukur memiliki seorang ayah, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, tetap sabar dan memberi bimbingan (secara tidak langsung)pada anggota keluarganya.

    I luv my family, hope i can better in raising and maintaing my core family.

    Luv so much sista;)

  2. mBak, kalau begitu cepet sekolah lagi, jangan tunda-tunda, jangan nunggu waktu longgar, jangan nunggu uang terkumpul. Jangan seperti saya, sarmud tahun 1985 baru S-1 tahun 1999 dan sudah kehabisan semangat untuk S-2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s