Balada Ine Sang Sekretaris


Judul ini terilhami dari judul telenovela Inez Sang Sekretaris. Walaupun saya tidak tahu cerita telenovela tersebut dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan telenovela. Sekretaris, pekerjaan yang tidak pernah saya pikirkan sama sekali. Sampai di suatu waktu saya mendapat julukan ”Sekretaris”.

Sama sekali tidak bermaksud mengeluh, atau tidak bersyukur (Ya Allah lindungi hamba dari sifat keluh kesah dan tidak bersyukur), hanya ingin berbagi pengalaman yang mudah-mudahan mengandung hikmah untuk kita semua. Saya mengutip Firman Allah Swt yang berkaitan dengan cerita saya ini ”….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah:216).

Sepanjang hidup saya sebelumnya saya tidak pernah menjabat sebagai sekretaris. Berkarir di Organisasi tidak pernah sekalipun menajdi sekretaris. Mari kita runut. Menjadi Diklat di PMR SMP, Seksi Budi Pekerti&Kepribadian yang Luhur di OSIS SMP, Bendahara PMR SMU, Seksi Pembinaan-DKM,. Begitu pula semasa kuliah tidak ada jabatan sebagai sekretaris, jabatan yang pernah saya emban semasa kuliah diantaranya Manager Research & Development ISEG, Hubungan Internal Salsabila-Permais, Hubungan Eksternal DKM Unpad, Staf Penelitian dan Pengembangan BEM FE Unpad. Bahkan diluar fungsi struktural, yaitu sepanjang sejarah kepanitian saya tidak pernah mencalonkan diri dan tidak pernah ditunjuk sebagai sekretaris, jabatan kepanitiaan yang pernah saya lakukan mulai dari Ketua Panitia, Humas, Seksi Acara, bahkan seksi konsumsi pun saya pernah menjalani, sekali lagi kecuali Sekretaris. Selain tidak pernah ditunjuk saat itu memang saya sangat tdak berminat menjadi Sekratris, alasannya saya pikir seorang Sekretaris relatif tidak bisa berkreasi. Menulis format proposal sesuai perintah Ketua, membuat jadwal acara sesuai Seksi Acara, membuat schedule budget sesuai yang di anggarkan bendahara, membuat undangan sesuai dengan usulan Humas, semuanya sesuai perintah orang lain, sangat sedikit ruang untuk berkreasi (begitulah pikiran saya saat itu, mohon maaf jika ada yang tersinggung).

Selepas kuliah saya bekerja di Kantor Akuntan Publik, sebagai Auditor. Pekerjaannya hampir 98% melakukan audit dan review. Pekerjaan administratif sangat sedikit sekali. Pekerjaan administratif yang pernah dikerjakan hanya membantu Manager membuat proposal untuk Audit yang di tenderkan, itu pun hanya sedikit sekali karena lebih banyak dikerjakan oleh bagian Marketing kami (non Audit).

Saat ini setelah saya pindah ke tempat kerja baru saya mendapat penempatan di Internal Audit.Sebagai tim Internal Audit alhamdulillah saya mendapat berbagai penugasan sebagai Auditor dalam berbagai engagement Audit dan Review, baik itu Review Laporan Keuangan, Test of Control, maupun Audit Manajemen sepert HR, Risk Management, dan lainnya. Oia nama jabatan resmi saya adalah Officer Administrasi, Monitoring dan Tindak Lanjut Audit. Dari nama jabatannya saja sudah ada istilah ”Administrasi” ya saya harus siap untuk berbagai pekerjaan administratif, akan tetapi tidak ada predikat atau jabatan resmi saya sebagai sekretaris. Di luar penugasan sebagai Auditor secara struktur saya mengerjakan beberapa pekerjaan adminsitratif sehingga dikalangan kami identik dengan nama ”Sekretaris”. Di Internal Audit saat ini terbagi menjadi empat Departemen, dan setiap Departemen memiliki sekretaris, sebagai salah satu dari anggota muda jadilah saya menjadi bagian dari kelompok ”Sekeretaris”. Pekerjaan sebagai “sekretaris” ini diantaranya membuat draft untuk surat resmi ”Nota Dinas”. Menyiapkan materi presentasi untuk bos, membuat notulensi rapat, dan kegiatan catat-mencatat lainnya.

Sebagai seorang profesional (setidaknya saya sendiri yang menganggap saya profesional), saya melakukan tugas sebaik mungkin apa yang telah menjadi tanggung jawab saya. Awalnya sangat kesulitan menjadi “sekretaris,” kesulitan yang paling utama saat pertama kali bergabung di organisasi ini adalah kesulitan membuat deliverable. Misalnya membuat Nota Dinas, Nota Kesepakatan, Notulensi, kesulitannya dalam menulis bahasa Indonesia. Bukan berarti saya tidak lancar berbahasa ataupun tidak menyenangi bahasa Indonesia, akan tetapi kesulitan muncul karena saya selama tiga tahun bekerja di KAP Internasional sehingga hampir sebagian besar pekerjaan tulisan berbahasa Inggris. Working paper, Audit Report, bahkan email ke klien (kecuali klien BUMN) pun hampir sebagian besar berbahasa Inggris. Tulisannya berbahasa Inggris memang relatif sulit dalam menyusun dan merangkai kalimat, akan tetapi untuk urusan spelling dan typo (kesalahan mengetik) relatif bisa dihindari karena saya selalu menggunakan spelling check baik itu untuk MS Office maupun email.

Saat pertama kali menjabat sebagai Sekretaris di perusahaan yang berbahasa Indonesia saya kesulitan menulisa catatan resmi. Bukan merangkai katanya, tetapi dalam hal spelling dan typo. Baik di MS office maupun email agak sulit untuk melakukan automatic spelling check alhasil saya harus mengecek nya secara manual (ada yang punya software untuk spelling check bahasa Indonesia?). Hambatan lainnya mungkin lebih bersifat preferensi saja, karena sebelumnya saya tidak terlalu menyenangi untuk melakukan hal-hal yang bersifat administratif.

Sekali lagi sebagai seorang profesional yang berusaha bekerja sebaik mungkin kini saya sudah mendapat berbagai pelajaran untuk diri saya sendiri dan skill improvement, misalnya kecepatan mengetik meningkat tanpa belajar mengetik sepuluh jari dengan benar, terbukti dengan saya bisa membuat nota kesepakatan yang ditulis saat rapat berlangsung dan di print kemudian di tandatangani ketika rapat selesesai saat itu juga. Selain itu sekarang saya lebih tertib dan rapi (sebelumnya terkdang melewatkan hal-hal kecil). Jadi alhamdulillah saya mengambil banyak pelajaran sampai saat ini menjadi ”Sekretaris.”

Jadi walaupun tidak terlalu menyukai saya untuk mencoba sebaik mungkin karena Allah tau apa kita kerjakan, apa yang kita usahakan, bahkan tau yang orang lain tidak tahu, maupun diri kita sendiri tidak tahu. Insya Allah di kesempatan mendatang Allah memberikan sesuatu yang saya lebih bisa meng-explor diri saya lebih baik dan membawa kemaslahatan lebih banyak. Semangat Ine. LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH (TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH). Lakukan segala sesuatu dengan baik ”Quality in Everything We Do” (meminjam tagline KAP saya dulu bekerja) dan ikhlas, karena hal ini yang menjadikan diri menjadi lebih baik, dan Allah tak pernah pilih kasih dan salah sayang.

PS:
1. Sampai saat ini karena saya di Departemen Internal Audit dan relatif lebih banyak engagement Audit maka saya menyebut diri saya “Auditor” bukan “Sekretaris”. Dan panggillah saudaramu dengan panggilan yang dia sukai. Jadi teman jangan pangil saya Ine Sang Sekretaris.
2. Saya menuliskan pengalaman organisasi dengan lengkap ya itung2 nebeng CV Pengalaman Organisasi.
3. Pengunjung dan pembaca blog harap menuliskan comment agar blog saya lebih semarak. Terimakasih.

4 thoughts on “Balada Ine Sang Sekretaris

  1. Waah…pake tagline perusahaan orang ga gratis lho Teh…minimal traktir stafnya laah *sambil dehem nepuk dada sendiri😀

    Enak nih Teh bacanya, ngaliiir, kayak air😉
    Keep posting, aku nih udah hampir 2 bulan absen nge-goBLOG huhuhu T T

    • Woke…nanti di traktir kalo ke Jakarta qt makan bareng tinggal sebut aja mau makan apa. Terus nanti ine dapet traktiran dari yang promote. Ok I’ll keep posting, and Puput keep comment my blog..hi3.

  2. Wadauuuuuw, gimana nih kok serupa.
    Saya benci pekerjaan sekretariat, tapi senang sekali orang nugasin saya sebagai sekretaris. Misalnya: Sekretaris di VW Club telkom waktu masih aktif, Sekretaris olah raga pernafasan di Merpati Putih GKP Telkom, Staf Sekretariat IAG beberapa tahun yang lalu, Sekretaris RW.
    Sama IA, saya pernah di kursuskan kesekretariatan. Ada beberapa hal yang sampai sekarang tidak bisa saya terima, misalnya slogan “bisa menangani segala urusan” termasuk: bila kancing baju boss tiba-tiba lepas, bila istri boss nelpon bahwa mobilnya mogok di jalan sampai mengurus perpajangan kepemilikan senjata yang dimiliki boss. Padahal, ngurus perpanjangan KTP saja….mualeeesss…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s