INGGRIS JONGKOK & DHUHA


Diawali dari satu kisah yang terjadi kurang sembilan tahun yang lalu. Siswi kelas dua SMA yang menyatakan menguasai tiga bahasa akan tetapi lemah berbahasa Inggris. Bisa ditebak tiga bahasa itu adalah Indonesia, Inggris, dan bahasa ibu (Sunda). Saya yang cap cis cus berbahasa Sunda (bangga dong anak jaman sekarang dan jaman saya juga tidak dominan berbahasa daerah), bahasa Inggris saya kategori kelas jongkok bahkan kelas tiarap.

Salah satu indikatornya raport saya untuk bahasa Inggris nilainya sangat standar yaitu 6 (mungkin guru saya juga memberikan nilai ini dengan belas kasihan). Sulitnya berbahasa Inggris sudah mulai terasa sejak SMP, tetapi kali ini semakin menjadi karena guru saya sekarang mantabs sekali (pernah sekolah di Australia kalo gak salah) sehingga kebodohan ini tampak kentara.

Sadar akan hal ini maka ada beberapa alternatif solusi, pertama saya bisa bekerjasama ketika ulangan atau ujian caturwulan (dulu per 4 bulan bukan semester) dengan teman yang pandai dalam pelajaran ini, alternatif kedua adalah belajar sendiri dengan keras, ketiga adalah kursus/ les. Alternatif pertama tidak saya pilih dong, karena itu solusi semu, karena angka/ nilai sejatinya adalah indikator (jika mekanismenya valid) bukan sebuah hasil. Sebuah solusi semu, karena tetap saja saya akan dudul berbahasa Inggris. Alternatif kedua lumayan bisa jadi solusi, tapi saya pesimis untuk bisa dan hasilnya akan kurang optimal. Maka alternatif ketiga sepertinya menjadi solusi terbaik yaitu ikut kursus/ les bahasa Inggris.

Gayung bersambut, keinginan saya untuk les dijawab dengan dibukanya cabang baru sebuah lembaga/ kursus bahasa Inggris dekat sekolah saya, karena cabang baru maka lembaga ini memberikan diskon untuk murid-murid baru yang belajar di cabang ini (harga cabang lain lebih mahal).

Yes, tanpa banyak basa-basi segeralah kuajak salah satu teman saya, sebut saja namanya Dewi. Pulang sekolah ke tempat les tersebut untuk tanya-tanya biaya, jadwal kelas, pokoke apa yang bisa ditanya lah. Ternyata harganya cukup lumayan bisa tertutupi oleh tabungan saya. Sampai dirumah langsung saya ajukan proposal untuk les kepada Menteri Keuangan Rumah Tangga (ibu saya), jawabannya adalah (sudah saya duga sebelumnya) boleh les tapi tidak ada budget tambahan. Artinya tidak boleh minta ibu untuk biaya kursus, dan tidak ada pula tambahan uang saku…

Baiklah, uang kursus ada dari tabungan, tapi kenapa tidak ada uang saku tambahan sih, padahal kan kursus sampai sore, dan perut ini tentu minta makan siang. Demi cita-cita luhur bisa berbahasa Inggris lancar, maka akhirnya jadilah saya mendaftar les bahasa Inggris.

Hari pertama akan les, Dewi yang tidak sekelas dengan saya mengajak untuk makan siang, saya mengiyakan karena tanpa makan siang perut ini akan keroncongan. Dengan uang saku terbatas maka kompensasi dari rencana makan siang berarti saya tidak bisa jajan saat istirahat (jam 9.30), akhirnya saya yang biasanya saya bergosip sambil ngemil, harus menahan diri…heu nasip-nasip.

Beberapa hari berjalan istrihat dengan tidak nyaman, istirahat tapi gak ngemil. Saat yang sama saya melihat beberapa teman yang rajin solat Dhuha saat isitrahat membuat saya tertarik. Baiklah, saya coba sholat Dhuha daripada bengong gak ngemil saat istirahat. Hem pertama kali sholat Dhuha, ternyata enak juga yah. Rehat sejenak untuk bertemu Allah (kalau saya khusuk) dipagi hari rasanya nyaman. Ternyata Dewi juga suka sholat Dhuha loh..beberapa kali saya bertemu dia saat istrirahat di masjid. Akhirnya karena les berlangsung lama, saya menjadi terbiasa sholat Dhuha.

Awalnya mungkin solusi atas keterpaksaan, tetapi sekarang saya membiasakan diri untuk Dhuha, dan diperbaiki dong niatnya. Dua atau empat rakaat (kalo delapan masih berat..heheh) sesaat sebelum bekerja. Untuk pembaca yang seperti saya yang kadang sayang bedak luntur di pagi hari karena berwudhu, bisa wudhu dulu sebelum berangkat (mudah2an tidak kentut dijalan..hehehe).

Oia yang saya salut adalah waktu saya bekerja di kantor lama ternyata banyak juga loh yang sholat Dhuha. Pekerja kantor saya mungkin secara umum ada yang menilai suka hedonisme, materialsme, atau apalah. Ternyata dalam beribadah banyak yang bagus juga. Saya sendiri jarang dhuha dikantor, saya lebih senang dhuha di kosan (karena kantor saya masuk agak siang dan letak kantor tak jauh dari kosan). Saat dhuha di kantor ternyata ada saja yang sholat selain saya. mulai dari yang berpenampilan ustadz sampai teman saya berpenampilan preman (hehe lebay, maksudnya casual style), berjilbab bahkan ada yang berok mini ternyata suka sholat dhuha di kantor.

Saya tidak memaparkan keutamaan sholat Dhuha atau dalil apapun. Pesan moralnya (gaya bener) jika ada kesempatan beramal baik walau memaksakan diri, lakukan segera, mudah-mudahan nantinya berkelanjutan dan niatnya diperbaiki lagi. Mudah-mudahan hal-hal baik yang telah kita lakukan saat ini bisa berkelanjutan, dan mendapat rido Allah. Semoga niat saya menulis ini tidak untuk bermaksud pamer, hanya ingin sedikit berbagi. Pembaca yang ingin memberi saran dan kritik boleh loh, untuk tulisan apapun di blog saya.

3 thoughts on “INGGRIS JONGKOK & DHUHA

    • Tokoh fiksi bernama dewi dahulu kala sering bolos waktu les advance, tapi kemudian saat ini diketahui menguasai 4 bahasa???..Hebat…Btw..bahasa apa aja yah, Inggris, Indonesia, Jawa, satu lagi??(kalo basa Sunda kayaknya nggak deh..cuma ngerti pasif doang kan yah)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s