Investment Review (Part II)-Pilih Apa Yaa???


Pada posting sebelumnya telah dijelaskan bagaimana kita membentuk pola pada diri kita agar mau berinvestasi, kemudian pertanyaan yang muncul selanjutnya, akan dikemanakan uang/ asset kita. Bagaimana menentukan instrumen investasi yang cocok dengan setiap pribadi kita.

Investasi dapat berupa financial instrument maupun non financial instrument(misalnya invetasi pada tanah, rumah, perkebunan, dll), pada tulisan kali ini saya akan membatasi ruang lingkup hanya pada financial instrument. Sebagai peringatan kepada pembaca, tulisan ini lebih bersifat pengalaman pribadi, sehingga memungkinkan timbul sedikit perbedaan dengan financial advisor, maupun artikel yang pernah dibaca.

Oke, kita mulai dari apa yang harus dipertimbangakan dalam memilih investasi. Saat ingin menentukan investasi mana yang dipilih, pertimbangan mendasar yang harus kita pikirkan adalah:
1. Likuiditas, dan rencana cash flow
2. Risk and return

Likuiditas, adalah seberapa cepat asset/ investasi kita dapat menjadi cash yang bisa kita gunakan segera. Memilih invetasi harus disesuaikan dengan rencana cash flow in & out(arus kas masuk dan keluar). Misalnya begini, dalam dua bulan kedepan harus membayar uang semesteran kuliah, maka hari ini idle money sebaiknya tidak diinvestasikan terhadap instrumen yang likuiditasnya rendah, atau dengan kata lain predikasikan bahwa porsi investasi dapat cair sejumlah cash yang dibutuhkan untuk membayar kebutuhan kita.

Risk and return, pahami risiko dan hasil yang diperoleh dari setiap invetasi. Membaca artikel invetasi, tanyakan kepada teman yang lebih berpengalaman, dan yang paling penting jangan malu bertanya kepada entitas yang menawarkan inveastasi tersebut, ingat kata pepatah malu bertanya sesat dijalan. Kemudian tentukan sampai sebesar apa kita dapat menerima risiko atas investasi, sesuai kaidah high risk high return

Dibawah ini akan saya bahas (preview) beberapa jenis investasi, sekali lagi ini berdasarkan hasil pengalaman pribadi yang ingin saya bagi untuk pembaca sekalian. Beberapa instrumen yang akan saya bahas kali ini adalah:
1. Tabungan
2. Deposito
3. Emas
4. Reksadana
5. Saham
6. Obligasi/ sukuk

Tabungan, uang dalam tabungan dapat kita cairkan kapan saja dan dimana (dengan atm), akan tetapi returnnya sangat kecil. Tabungan tidak saya anjurkan sebagai sarana invetasi, akan tetapi sebagai lalu lintas pembayaran dan untuk motif berjaga-jaga. Sisakan uang kita pada tabungan dalam jumlah yang cukup untuk kegiatan operasional bulanan, belanja tak terduga (misal biaya kerumah sakit), dan anggaran cadangan. Return tabungan relatif kecil saat ini pada bank nonsyariah bunga saat ini sekitar3-4% setahun, dipotong pajak (20% dari pendapatan bunga) dan biaya administarasi, pada bank syariah pun bagi hasil relatif kecil, saya yang menabung di bank syariah pun bagi hasilnya tidak jauh berbeda sekitar 3-5% setahun (fluktuasi tergantung kinerja bank) dikurangi pajak dan biaya administrasi. Bagi saya biaya administarsi tidak melekat pada return (bagi hasil maupun bunga) akan tetapi melekat pada services, sehingga pertimbangkan bank yang bisa melayani berbagai kebutuhan kita (ketersediaan atm, layanan internet banking, dan layanan komplemen contohnya agen penjual instrumen investasi lainnya).

Deposito, cocok untuk investasi jangka pendek, dan kebutuhan likuiditas yang tinggi. deposito pada bank konvensional, berdasarakan survey pribadi pada bank umum nasional bunga deposito saat ini sekitar 5.25-6.5% setahun (belum dipotong pajak final 20% atas pendapatan bunga), tergantung termin. Untuk deposito di bank syariah menggunakan bagi hasil, sehingga akan tertulis bagi hasil seperti 51:49%, 55:45%, sehingga sangat bergantung kepada kinerja bank. Deposito relatif low risk, dan sangat likuid. Kita bisa mencairkan uang deposito walaupun belum jatuh tempo (akan tetapi terkena pinalti, bank yang saya gunakan mengenakan pinalti Rp36.000/ bilyet). Oia, untuk deposito pendapatan bunga bisa dikapitalisir, maupun bunga diterima perbulan, saya lebih prefer untuk dikapitalisir sehingga nilai principal/ pokok menjadi bertambah dan dasar pengenaan bunga/ bagi hasil menjadi lebih tinggi.

Emas, ini salah satu favorit saya. Emas dari segi likuiditasnya relatif tinggi dan mudah untuk dijual. Walaupun emas memiliki bukti kepemilikan berupa surat/ sertifikat, akan tetapi kita dapat menjual emas dimana saja walaupun tanpa surat. Sehingga berhati-hatilah untuk penyimpanannya. Kita bisa berinvestasi emas berupa logam mulia maupun emas perhiasan (70% ataupun 90%). Dari pengalaman tiga tahun terakhir ini return yang saya dapat sekitar 14-25% setahun. Walaupun likuiditasnya tinggi, emas lebih cocok untuk invetasi jangka panjang, karena peningkatan harga baru akan terasa jika kita menyimpan emas lebih dari setahun. Pembelian emas perhiasan bisa dibeli di toko emas manapun, akan tetapi saat dijual akan dipotong biaya pembuatan. Untuk emas mulia bisa dibeli di counter Antam, maupu di toko emas tertentu (harga di toko emas biasanya lebih mahal). Saat ini harga emas relatif sedang berfluktuasi, sehingga saya anjurkan untuk memantau harga terlebih dahulu sebelum membeli emas. Cek harga logam mulia bisa di http://www.logammulia.com. Bagi rekan-rekan yang ingin mencoba membeli emas di Antam, bisa membeli di counter Antam Jakarta di Jl Pemuda, jika dari halte busway Sudirman, Dukuh Atas, kita tinggal naik busway ke arah Rawamangun, turun di halte TU GAS, tepat di arah sebelah kiri ada counter Antam.

Reksadana, instrumen keuangan yang dikelola manajer investasi. Reksadana cocok untuk investasi jangka menengah. Secara umum reksadana terdri dari (urutan risk and return, dimulai dari low risk low return) pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham.. Untuk investasi di reksadana ini kita perlu memantau harga per unit/ Nilai Aktiva Bersih(NAB/NAV), sehingga kita bisa tau kapan harus jual dan kapan harus beli. Sebelum memilih akan membeli reksadana apa sebaiknya membaca prospektusnya, lihat trend returnnya, walaupun kinerja reksadana masa lampau tidak mencerminkan return masa depan, akan tetapi analisa ini sangat berguna untuk analisa komparasi dalam memilih reksadana. Selain kinerja perlu dipertimbangkan juga manajer investasi, saya sendiri lebih prefer untuk memilih reksadana produk manajemen investasi ternama. Untuk pembaca yang ingin memantau harga reksadana, sebagai salah satu referensi untuk harga reksadana bisa dilihat di harian Bisnis Indonesia, atau di www. Infovesta.com (untuk harga di web ini merupakan harga reksadana H-1). Sebagai info tambahan reksadana bisa dibeli di banyak bank sebagai agen penjual, tanyakan pada CS bank produk reksadana apa saja yang dijual (ingat reksadana bukan produk bank, bank hanya sebagai agen penjual), untuk penjualan/ redemption uang kita akan cair pada H+3 sampai H+7.

Saham, untuk berinvestasi di saham membutuhkan effort lebih, dalam artian kita perlu memahami analisa fundamental dan memantau harga secara kontinyu. Saat ini berinvestasi di saham relatif mudah, sebagai contoh untuk membuka trading online di Mandiri Sekuritas (www.most.co.id) cukup mempunyai dana 5 juta untuk pelajar&mahasiswa dan 10 juta untuk umum (dulu saat promosi 2.5 dan 5 juta). Uang yang disetorkan ke sekuritas nantinya menjadi nilai yang bisa kita belanjakan saham dan tidak harus seluruhnya dibelanjakan saat itu juga.

Obligasi dan sukuk (obligasi syariah), lebih cocok untuk invetasi jangka panjang. Return obligasi relatif ada pada level moderate. Jika level risk acceptance kita rendah sebaiknya membeli obligasi/ sukuk pemerintah. Surat berharga ritel saat penawaran perdana dapat dibeli di agen penjual (bank atau sekuritas yang ditunjuk). Sebelum membeli obligasi beberapa hal yang perlu dipahami dan ditanyakan pada agen penjual adalah return, biaya custody, serta cara penjualan sebelum jatuh tempo. Untuk obligasi syariah saat ini di Indonesia menggunakan sekama Ijarah, sehingga kita mendapatkan fixed return bulanan.

Instrumen investasi keuangan masih beragam lagi jenisnya, misalnya DPLK, asuransi, unit link, indeks, dan instrumen derivatif lainnya, tetapi hal ini tidak saya bahas. Untuk saat ini, saya cukupkan pembahasan, mungkin belum komprehensif, tetapi saya harap sharing ini bisa memberikan sedikit gambaran utuk kita.

Hal yang penting dalam berinvestasi, adalah biasakan diri untuk mencatat. Ya, saya tahu bahwa rekan-rekan banyak yang malas dalam tertib administrasi, dan beranggapan menggampangkan hal ini karena saya lulusan Akuntansi. Tapi tenang jangan dulu malas dan pesimis. Hal mendasar untuk dicatat sedehana saja yaitu tanggal transakasi , nilai per unit, dan jumlah unit. Dengan mencatat hal ini kita bisa mengetahui return investasi kita, dan dijadikan pelajaran untuk masa mendatang. Jadi jangan malas mencatat yah, take it simple. Terakhir pesan saya pelajari karaktiristik investasi , sesuaikan dengan kebutuhan kita (untuk Muslim sesuaikan dengan kaidah syariah), dan mulailah berinvestasi

NB: dalam tulisan ini saya tulis beberapa merk/ entitas, ini hanya sebagai referensi dan bukan sebagai media promosi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s