Antara Pelit, Provokasi, dan Idealisme (Sebuah catatan untuk dunia pendidikan)


Semasa SMP, saya hampir mendominasi perolehan juara kelas maupun juara umum. Mungkin tidak terlalu membanggakan mengingat saya tidak sekolah di SMP favorit. Walaupun demikian, saya sendiri pada dasarnya bukanlah anak yang terobsesi menjadi bintang. Seingat saya waktu itu saya lebih berfikir belajar untuk membut saya bisa, belajar untuk mencapai cita-cita, dan tidak terlalu mengecewakan orang tua.  Terebutnya tahta juara terjadi saat kelas tiga SMP (catur wulan kedua kalau tidak salah) peringkat pertama diperoleh oleh sahabat saya. Sama sekali tidak bersedih, mengingat yang menyalip saya memanglah seorang yang pantas (sahabat saya ini kebetulan terus satu kelas dengan saya dan sahabat saya sering di ranking dua). Salah satu mata pelajaran yang membuat saya tersalip waktu itu adalah pelajaran Olah raga.

Ada satu kisah unik dibalik pelajaran Olahraga saat itu. Entahlah mungkin karena saya sangat cermat dalam mengeluarkan uang (apa bedanya dengan pelit?) atau akibat provokasi terselubung, atau karena mempertahankan idealisme, entah diantara tiga ini yang menjadi pencetus kisah ini harus terjadi. Saya adalah anak yang tidak pandai dalam praktek olah raga, yah satndard lah, biasa saja. Akan tetapi dalam hal olahraga renang saya mengibarkan bendera ”perang dingin”. Hem, bukan pada olahraga renang nya sih, tetapi akan sebuah ”pemaksaan” yang dilakukan oleh seorang guru X.
Murid-murid di SMP ini boleh dikatakan sebagian besar berasal dari golongan menengah ke bawah. Berolahraga renang saat itu saya pikir bukanlah olahraga yang pas untuk diwajibkan kepada murid-muridnya. Bisa saya bayangkan untuk satu kali renang, biaya masuknya saja mungkin bagi teman saya yang orang tuanya seorang penarik becak sama dengan seharian mencari uang ditengah panas dan hujan. Belum ongkos ke tempat renang, belum jika ingin jajan. Bagi saya sendiri ongkos/ biaya sekali berenang cukup lumayan untuk ukuran kantong orang tua saya.

Permasalahan kedua selain biaya adalah dengan cara mengajar guru X ini. Saya diajar oleh beliau di kelas satu dan di kelas tiga.. Kembali topik ke cara mengajar Guru X, beliau mewajibkan kami berenang sebulan sekali. Cuma yang sangat saya sayangkan, beliau jarang mengajarkan kami berenang, sesekali mungkin pernah, tetapi lebih sering renang hanya isi absen, sisanya terserah anda. Inilah yang membuat saya sangat enggan berenang. Untuk apa mengeluarkan uang tetapi hasilnya tidak ada (pay for nothing and no value added) Saat tidak berenang beberapa teman bertanya kenapa saya tidak berenang, jawabannya sederhana saja sayang uang, dan gak diajarin.

Saat kelas satu nilai olahraga saya tidak terlalu bermasalah ya rata-rata tujuhlah. Saat kelas satu sesuai kurikulum, bahwa nilai olahraga merupakan gabungan dari nilai teori dan praktek, sehingga dari teori mungkin cukup membantu nilai saya. Saat kelas tiga saya melakukan hal yang sama seperti kelas satu ”sering bolos renang”, dan ternyata cukup banyak teman saya pun yang tidak berenang. Saya sama sekali tidak bermaksud memprovokasi teman-teman untuk tidak berenang, hanya saat ngobrol-ngobrol saja saya terkadang bilang sayang ya uang harus dikeluarkan tapi manfaatnya kurang bisa dirasakan. Celakanya, di kelas tiga kurikulum sudah berubah, yaitu bahwa pelajaran olah raga full praktek tanpa teori. Walau demikian, aksi jarang berenang masih saya terapkan, mungkin beberapa kali saja saya berenang.

Di caturwulan kedua saya mendapat nilai enam untuk olah raga dan sahabat saya mendapat nilai sembilan (sahabat saya memang jago berbagai olah raga)  tak apalah saya nilai enam, dan membuat saya tersalip, tapi tidak menjadi masalah bagi saya. Ternyata kisahnya tidak berhenti pada nilai enam. Cerita berlanjut mengenai adjustment nilai.

 Di awal caturwulan ketiga guru X bertanya pada kami, ”Tunjuk tangan yang nilai raport olahraganya nya lima!” Tidak ada seorang pun yang angkat tangan

Sekali lagi Guru X bertanya pada kami ”Tunjuk tangan yang nilai nya  enam!”. Cukup banyak diantara kami yang mengangkat tangan (termasuk saya). Saya berpikiran ya wajar karena kelas kami mayoritas pembangkang dalam berenang Pertanyaan dilanjutkan dengan bertanya sampai angka ke sembilan.

Entah apa yang terjadi, pada hari yang sama di siang hari nya saya dipanggil oleh Wali kelas. Hanya saya sendiri!!! Cukup surprise, karena biasaya yang dipanggil oleh Wali kelas secara mendadak adalah anak yang banyak bolos, tidak sopan saat di kelas, pokoknya lebih banyak hal negatifnya deh.

Sesampainya di ruang guru, pertanyaan yang ibu Wali kelas sederhana saja, ”Kenapa kamu tidak berenang?”

Jawaban saya waktu itu karena sayang uang, dan karena hanya absen saja di tempat renang membuat saya enggan. Setelah saya menjawab ibu Wali Kelas memaparkan bahwa ia telah ditegur oleh guru X karena telah melakukan adjustment nilai, saya berpikir mungkin yang mendapat adjustment ini tidak hanya saya karena seingat cukup banyak anak yang sering bolos renang.

Bu Wali kelas menjelaskan, ”Kamu dikasih nilai lima untuk olahraga caturwulan II kemarin, cuma saya rasa tidak lucu sebuah pelajaran olahraga bernilai merah di raport anak-anak saya.” Selain itu wali kelas memberikan pemaparan lagi, ”Saya ditegur oleh Guru X atas adjustment nilai olahraga untuk beberapa anak dikelas kita.”

Mendengar hal ini saya hanya terdiam saja. Entah kenapa pula kenapa saya yang dijadikan sampling terpilih untuk mengetahui hal ini.

”Lain kali berenang ajalah, lagian ini kan kelas tiga, nanti bagaimana nilai di Ijazah.” Wali kelas menjelaskan lagi. ”Kita malas ribut.”

Saya hanya bisa bilang ”Ia Bu.” Saya hanya bisa bilang ia walau saya tidak tahu apakah nanti saya akan mau rajin berenang. Setelah tidak ada hal yang akan dibahas lagi, saya dipersilakan kembali . Akhirnya selesai sudah dialog hari ini.

Di caturwulan ketiga ini saya memang tidak selalu berenang tiap bulan (mungkin idealisme bahwa cara Bapak X masih salah, dan juga kepelitan saya), akan tetapi saya berenang saat dibilang akan ada tes (walau pada kenyataannya tidak dites, hanya absen). Saat itu saya tidak mempunyai keberanian untuk perang terbuka dan memprovokasi untuk melakukan protes, tetapi setidaknya ada banyak teman yang meng-amin-i yang mengambil jalan untuk beberapa kali membolos berenang (masuk jika akan ada tes). Tetapi pada akhirnya kami harus melakukan kompromi demi menghindari perang terbuka dengn guru kami (heheh lebay).

 Dari hal ini yang saya ingat dan menginspirasi bagi diri saya sendiri adalah, lakukanlah apa yang dipahami oleh diri sendiri merupakan suatu kebenaran. Tidak terlalu penting mem-provokasi atau persuasi pada dunia atas apa yang dilakukan, tetapi meyakinkan diri bahwa telah berada pada jalan yang benar.

Mungkin idealisme saya saat ini sudah jauh berkurang, akan tetapi setidaknya hal ini bisa mengingatkan bahwa saya pernah punya idealisme, dan memupuk rasa malu pada diri sendiri.

NB:

Catatan untuk teman-teman yang bergerak di bidang pendidikan, cobalah cari cara dan metode yang tepat dalam mengaajr, sesuaikan dengan kondisi murid, dan walaupun pendidikan memerlukan komersialisme, tetapi komersialisme itu harus memberikan manfaat, dan murid tidak hanya mendapat nilai tetapi mendapat bekal ”mampu” di masa kelak.

Bapak Guru X, mohon maaf saya telah memaparkan hal ini, saya hanya ingin mengambil sebuah cuplikan kisah, saya yakin jasa Bapak sangat besar, mohon maaf saya belum dapat mengekspos dan memaparkan jasa Bapak dalam mengajar. Saya yakin seorang guru jauh lebih mulia dari pada saya, karena ilmu dari seorang guru akan menjadi amal shalih yang tak pernah terputus hingga hari akhir.

One thought on “Antara Pelit, Provokasi, dan Idealisme (Sebuah catatan untuk dunia pendidikan)

  1. memang dilema ya. kita sebagai murid merasa dirugikan, tapi mereka sebagai guru jg (mungkin) merasa disepelekan.
    tapi saya sepakat bahwa kondisi pendidikan di negeri ini harusnya bisa lebih baik lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s