Dinda (Ini bukanlah akhir segalanya)


Kali ini saya tulis sebuah cerita pendek, sebuah fiksi, walau saya kategorikan di blog ini “Life Experience” karena kategori di blog saya baru ada dua (Research or Life Experience), mungkin di lain kesempatan saya perlu re-categorize tulisan-tulisan saya, karena isinya gadogado (bervariasi).

Kategori: Fiksi, Cerita Pendek
Penulis : Ine Dwiyanti
Total kata : 635

Dinda (Ini bukanlah akhir segalanya)

Sekali lagi aku buka dan kulipat kembali secarik kertas ini. Ah, entah berapa kali aku membukanya, 10, 20, 30, lebih bahkan mungkin sampai seratus kali, berharap tulisan didalamnya berubah, atau berharap ini adalah sebuah mimpi buruk. Ternyata ini tetap tak merubah keadaaan.

Apa aku ini seorang ibu yang tak nyata bagi putrinya sendiri.Wujudku ada tapi kehadiran aku tiada arti, atau bahkan lebih seruig wujudku memang tak ada di samping putriku. Bukan-bukan ini yang aku inginkan, bahkan memikirkannya pun aku tak pernah.Terlebih sudah seminggu ini, putriku hanya terbaring lemah, dan mengacuhkan diriku. Ibu macam apa aku ini, bahkan saat putrinya terpuruk kutuduhkan hal yang kejam padanya. Kutuduh anakku telah berzina. Tidak-tidak, anakku bukan pezina, dan seminggu yang lalu hasil medis telah membuktikannya, anakku masih perawan.

Positif HIV, tulisan dalam kertas yang kuterima dua pekan lalu ini, telah aku baca berkali-kali, tetap berharap ini tak nyata. Sekarang, anakku tidak hanya HIV, depresi berat, bahkan aku seorang psikiater ternama di kota ini tak mampu menyentuhnya, aku merasa ini sebuah ironi. Bukan, bukan karena aku khawatir karir ku yang akan turut hancur, kini aku sangat mengkhawtirkan Dinda, anakku satu-satunya.

Dinda putriku, mengapa ibu begitu buta, ibu tak bisa melihat segurat kesedihan di wajahmu selama ini, ibu tak bisa melihat seberkas amarah terpendam dalam hatimu. Mengapa engkau tak pernah mengutarakan apa yang kau inginkan pada ibumu, mengapa engkau tak berbagi dengan aku. Tidak, inilah salahku, bahkan di saat seperti ini aku masih berpikir engkau yang salah dan tak mau terbuka dengan aku.

Dua pekan yang lalu pula, aku telah membuat keadaan anakku semakin parah. Setelah menerima pemeriksaan medis yang menyatakan putriku positif HIV, aku malah memaksanya mengaku, apakah dia sudah berbuat zinah pula. Kupikir selain pecandu obat putriku telah melakukan “pergaulan bebas”. Aku paksa anakku melakukan tes lagi yaitu memeriksa keperawanannya. Bahkan Dinda yang bersumpah atas nama Allah pun tak bisa kupercaya. Inilah yang membuat anakku tak mau berbicara lagi padaku.

Aku seorang psikiater, sudah lebih dari 15 tahun aku menjalani profesi ini. Sebuah profesi yang mulia pikirku sebelumnya, rela mendengarkan keluhan, mengamati kondisi kejiwaan sorang, dan mencoba memberikan solusi untuk keluar dari permasalahan, dan memandang dunia dengan lebih positif. Dinda, putriku pekan depan ia tepat berusia 19 tahun, kulihat ia seorang yang cerdas di kampusnya, aktif, dan tak terlihat kondisi kesedihan walau ia tak memiliki sosok ayah lima tahun ini.

Suami ku meninggal tepat lima tahun yang lalu. Meninggal saat usia empat puluh lima, seorang internist ternama, meninggalkan dunia fana, tanpa pesan kematian yang ditinggalkan pada kami, dan tanpa tanda dengan sakit terlebih dahulu. Usia memang rahasia Illahi. Selama ini kami berdua berusaha tegar, tegar tanpa sosok ayah dalam keluarga.

Yaa Rabb selama ini aku jauh dari-Mu, ataukah Engkau sedang menguji kami. Rabb, aku ingin menjadi ibu yang baik bagi putriku, aku ingin menjadi hambamu yang selalu mencurahkan segenap jiwa pada Mu. Aku tahu Engkau penolongku, aku pinta janjimu bahwa Engkau tak akan pernah memberikan cobaan yang tak mampu dipikul hamba-Nya.

Yaa Rabb, jika Engkau tak memperingan beban ini, kuatkan pundakku untuk memikul beban, kuatkan kakiku untuk terus melangkah, tegarkan hatiku untuk tetap tabah. Yaa Rabb, putriku mungkin belum memaafkan aku, aku mohon ampun padamu, dan Engkaulah yang menggegam segenap jiwa kami semua, bukalah hati putriku untuk memaafkan aku. Yaa Rabb bimbing kami, untuk menjadi hamba Mu yang tegar dan kuat, dan memiliki kecintaan yang besar pada-Mu.Amiin.

Setetes air mata jatuh, tak kupedulikan air mata ini. Ini bukanlah sebuah drama kesedihan, yang kuinginkan aku dan anakku bisa tegar. Sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar ditengah keheningan sore ini, “Ma, Ma…..”

Alhamdulillah Yaa Rabb, putriku kali ini mungkin sudah tak mengacuhkanku, ini adalah kali pertama dia memanggilku sejak dua pekan ini. Segera kulangkahkan kakiku menuju kamar putriku tercinta. Dinda, Mama yakin kita dapat melalui semua ini dengan lebih baik lagi, karena ini bukanlah akhir dari segalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s