Fenomena Stress dan Sakit Jiwa (Part II)-Aku adalah Kekasih Imajinasinya


Menyambung tulisan saya sebelumnya saya paparkan dulu kejadian unik kedua mengenai pengalaman bertemu orang stress. Berbeda dengan cerita sebelumnya yang ”menegangkan” buatku, cerita ini cukup menggelikan.

Disiang hari (hari Minggu kalau tidak salah), saya bersiap pulang dari rumah teman. Sebagai manager vokal grup &akustik- Nasyid (fyi, pada masanya kelompok kami cukup berjaya loh dan pernah memenangkan kompetisi), saya turut menghadiri latihan rutin. Saat menunggu angkot datang (lagi-lagi angkot) ada seorang pemuda menghampiri saya. Tampilannya sih normal, bersih, dan sama sekali tidak ada yang mencurigakan.

Pemuda itu langsung menyapa saya, ”Neng nanti sore saya main ke rumah yah!”

Gubrak, siapa pula si abang ini, bukan saudara, apa dia kira saya ini pacarnya. Mendengar hal itu saya cuma bisa tersenyum saja.

Karena saya yang tidak banyak merespon langsung pemuda itu berkata lagi, ”Neng, ini ada simpanan buat Neng.”

Wakakak saya menerima amplop dan kupastikan isinya sejumlah uang ribuan, receh, entahlah isinya berapa karena amplop tak kubuka. Bingung, mau ditolak takut ada apa-apa, mau dijelaskan takut malah tambah runyam. Akhirnya saya menerima amplop dan hanya bisa bilang, ”Makasih.”

Alhamdulillah angkot yang kunanti telah datang, bergegas saya naik, dan pamit sekedarnya pada si abang tadi.

Melihat saya telah naik angkot, si abang malah berteriak, ”Neng nanti sore saya saya kerumah yah!”

Oia, saat itu saya bersama dua teman saya yang naik angkot yang sama, kedua teman saya hanya bisa tersenyum. Uang hasil pemberian si abang saya masukkan ke kotak amal tanpa kubuka amplopnya (saya berpikiran takut ada guna-gunanya atau malah berisi virus Anthrax-saat itu sedang heboh virus Anthrax).

Mengingat hal tersebut kadang membuat saya geli sendiri, sampai-sampai orang stress (mungkin beliau stress kali yah, masa salah orang sih?) bisa naksir saya. Apa saya ini sangat mirip dengan kekasih dalam imajinasinya, entahlah.

Sedikit membahasa tentang orang stress, atau mengalami gangguan kejiwaan, mungkin disekitar kita ada orang-orang yang mengalaminya. Hal yang wajar jika kita terkadang takut mengahdapi orang sakit jiwa, akan tetapi menurut saya pribadi sikap kita sebaiknya tidak terlalu berlebihan atau bahkan mencemooh mereka. Bagi pihak keluarga yang memiliki saudara atau kerabat yang sakit jiwa sebaiknya tidak membiarkan mereka berada dijalanan, dengan pendekatan yang baik, mungkin bisa kembali normal. Bahkan tetangga saya yang mempunyai anak yang mengalami gangguan kejiwaan, saat ini anaknya sembuh dengan orang tuanya rajin tahajud (menurut ceritanya), bahkan mengajak anaknya sering ke masjid.

Dari sudut pandang psikologi maupun psikiater mungkin ada banyak yang menyebabkan seorang menderita sakit jiwa. Akan tetapi yang saya lebih percayai kuncinya adalah ikhlas, mungkin sulit untuk ikhlas tapi kita harus mencoba untuk ikhlas atas apa yang terjadi pada kita dan lingkungan sekitar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s