CHILDREN OF ROSES


Mendapatkannya dengan tak sengaja disebuah toko di bilangan Jl Supratman, tepatnya di Togamas (maaf nyebut merk). Setelah mendapatkan buku yang aku incar dan aku idamkan, aku beranjak ke rak buku di bagian depan. Naluri ibu-ibu diskon mendorongku untuk melihat buku-buku dengan harga miring. Biasanya buku yang masuk rak ini adalah buku over stock atau buku yang out of date, tapi saya berharap mendapatkan buku bagus walau harganya murah.

Waw, ditengah banyak buku, aku menemukan sebuah novel berjudul “Children of Roses”. Sekilas kubaca sinopsis yang ada di halaman belakang, cukup menarik. Harganya pun sangat miring hanya Rp 10.000 saja. Sebagai pembeli cerdas walau harganya murah harus ada alasan rasional kenapa kita membeli barang itu. Ok, inilah justifikasi saya untuk memutuskan membeli novel ini:
1. Pada sampul novel tertulis sebagai pemenang Hadiah Tertinggi Lomba Penulisan Fiksi Liga Sastra Islam Dunia
2. Novel dari Timur Tengah yang pernah saya baca sebelumnya (misalnya The Kite Runner, Taring-taring Pengkhianat )memiliki cerita yang unik walau penuh ironi, jadi mungkin novel ini yang berasal dari Timur Tengah-Palestina memiliki cerita yang unik juga.
3. Novel ini relatif tipis sehingga teman yang pas untuk membunuh kebosananku saat naik angkot.

Setelah saya membaca novel ini, menurut saya memiliki cerita yang bagus, penuh akan dialog tentang pelajaran kehidupan, tidak menggurui tapi mengena di hati. Novel ini bercerita tentang seorang pemuda Palestina bernama Wail, yang mengalami pergulatan batin dan memilih untuk terbang ke Amerika meninggalkan Ibu yang dicintai, saudara yang mencintainya, dan tanah kelahirannya Palestina. Terbang ke Amerika dengan sebuah asa dan cinta, kekasihnya Jean yang berada di Amerika, dan memburu dolar di negeri lain. Kecamuk hati terus meronta. Tergambar wajah luka ibunya. Kegundahan membuncah saat mengangkasa, mengobrol dengan Helen Gern, wanita peneliti Amerika yang terlanjur jatuh hati pada Palestina. Obrolan itu begitu menohoknya.

Salah satu hal yang membuat novel ini memiliki daya tarik yang besar adalah saat membaca, terdapat banyak petikan dialog yang memiliki arti mendalam, terutama dialog antara Wail dengan seorang nyonya- wanita kristiani yang sangat terkesan akan Islam. Bahkan wanita tua itu mampu menyadarkan dan memberikan “tamparan kecil’ untuk Wail.Berikut cuplikan-cuplikan dialog yang menarik itu

Bab- Kembali ke Masa Depan
…..
Wail berkata kepada wanita tua itu sambil mengusap wajahnya dengn telapak tangan, “Saat perasaaan sseorang dengan kelemahan begitu mendera, ia merasakan kedekatannya dengan Allah.”

Wanita disampingnya itu merenung. Ia mengamati Wail dengan segenap rasa. Ia memerhatikan gerak wajah Wail, lalu mengangguk tanda setuju dengan apa yang barusan diucapkan, dan menyambungnya dengan ungkapan, “Ketika perasaan lemah menjalar dalam diri, seseorang mulai kehilangan kepercayaan dirinya; sebuah kepercayaan yang mampu menggambarkan hidup dengan jelas laksana naungan yang akan mememayungi langkah-langkahnya ke depan. Ada saat-saat dimana seseorang mendapatkan sebuah hakikat tak ubahnya tabir tuli di depan matanya. Pada kondisi seperti ini, ia melihat dirinya terlalu lemah terbogol oleh ketakutan sekaligus harapan. Dan itu adalah asa, wahai anak muda. Sebuah upaya untuk mencari kekuatan yang diyakininya mampu untuk mendatangkan keselamatan. Kalau saja manusia merasa lebih unggul dari segala sesuatu yang ada di alam ini, serta merasa hanya dirinyalah kekuatan tempat berlindung, ia tidak akan mengangkat kedua tangannya dalam doa meminta bantuan kepada kekuatan yang tertinggi itu!!!!”

”Allah, maksudmu?”

”Ketakutan itu, wahai anak muda, melumpuhkan pikiran, persis dengan apa yang terjadi pada seekor tikus percobaan. Ketika menghadapi situasi yang menakutkan, engkau melihat binatang tersebut kebingungan ke kanan dan ke kiri, tak dapat menemukan jalan yang benar. Setelah menabarak dinding, kelemahan lalu datang menciptakan ketakutan yang luar biasa. Hal ini dikarenakan tidak adanya ruang untuk menanam khayalan apa pun yang akan mengatur detak jantungnya. Saat itu, kakinya gemetaran.”

”Ketakutan juga melumpuhkan kemampuan seseorang untuk melakukan dialog dengan dirinya sendiri. Setelah keadaan ini, ia akan kembali dengan sendirinya pada perasaannya bahwa ada kekuatan luar biasa yang mampu menyelamatkannya dari cobaan. Ia kemudian begitu berharap dan memohon dengan sungguh-sungguh. Ini berarti, bahwa perasaan itu telah tersimpan dalam dirinya, meskipun ia mampu mengingkarinya pada situasi-situasi biasa saat dirinya masih dapat mengontrol lingkungannya. Ia merasakan dirinya hanyalah milik sumber segala kekuatan yang ada, yaitu Allah.”

Ia terdiam, nampak seperti orang yang memeras ingatannya. Lalu, meneruskan ucapannya sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan gerakan ringan, ”Kalian menyebut perasaan itu sebagai fitrah insani. Aku pun meyakini adanya, karena aku telah mengalaminya sendiri. Waktu itu, pesawat yang membawa anakku ke Roma mengalami kerusakan yang hampir membuatnya jatuh. Keyakinan akan kepastian menerima kesedihan baru karena kehilangan putraku, membuatku membaca Al-Quran meski aku seorang kristiani.”

”Apakah hanya ketakutan yang mendekatkan kita kepada Allah?”

Mungkin juga harapan yang mendorong kita membangkitkan perasaan itu dalam diri kita. Ketika sebuah keinginan mendesak kita secara terus menerus, kita sangat yakin tidak ada jaln menuju pada-Nya selain dengan harapan itu. Ringkasnya, kemampuan seseorang menemukan tingkat kelemahannya, baik dengan rasa takut maupun dengan harapan, mendorongnya pada keimanan kepada Allah.”

Bab Ketakutan dan Kematian
….
”Ketika seseorang tidak dapat memahami kenyataan, ia akan menggantinya dengan ilusi yang tidak dapat dipahami selain oleh dirinya sendiri. Setelah itu, ia merasa dirinya sajalah yang memahami hakikat dan menggambarkannya. Padahal, tidak ada yang tertarik untuk memerhatikan ilusinya tersebut. Apalagi, orang-orang yang menjadi musuhnya.”

Wail menarik napas panjang. Ia menggoyangkan kepalanya, sambil mengangkat kedua bibirnya dengan putus asa, ”Tidak ada gunanya percakapan yang berusaha mengganti siang menjadi malam, dan merubah bumi menjadi langit.”

”Apa yang kaumaksud?”

”Bagiku, filsafat itu menyia-nyiakan hakikat. Ia membuat jalan kita menuju kebenaran menjadi lebih sukar. Kadang berubah seperti tanah tidak rata yang sulit untuk dilalui, di mana tak ada satu pun yang bermimpi untuk melewati marabahaya yang ada.”

”Filsafat memungkinkanmu menggambarkan hakikat lebih dari satu cara. Dengannya, engkau dapat memandang secara jernih sebesar apa pun masalah yang kauhadapi. Memang filsafat kadang gagal untuk sampai pada satu hasil yang menyenangkan. Bahkan, filsafat kadang menenggalamkanmu pada ilusi-ilusi kosong. Meski demikian, filsafat tidaklah menipumu. Engkau sendirilah yang menciptakan jaring-jaring itu, lalu menjatuhkan dirimu kedalamnya.”

”Bisakah engkau mencoba memahami masalah seperti seorang petani yang tidak melihat dunia ini selain pemandangan langit yang membiru diselingi mentari serta awan di musim-musim yang terus saja berganti?”

Wanita itu tertawa senang. Lalu, ia menunjuknya sambil menuduh, ”Engakulah filosof itu, bukan aku.”

Wail membalas tawa wanita itu dengan tawanya bergemuruh, hingga menjadikan wanita itu berkata lembut, ”Engkau nampak bahagia saat tertawa.”
**

Itulah beberapa petikan dialog yang sangat berkesan. Ada banyak hal yang membuat saya merenung dan tergugah. Selain dialog tentang kehidupan novel ini juga memaparkan argumentasi-argumentasi mengenai hukum Islam.

Walau saya tak pernah membaca atau mendengar sebelumnya tentang novel ini, saya merasa tidak kecewa bahkan sangat puas membeli novel ini. Novel ini menjadi salah satu koleksi saya yang berkesan mendalam. Berikut identitas buku terjemahan ini, semoga anda dapat pula membaca buku ini.

Judul : CHILDREN OF ROSES
Pergulatan Cita dan Cinta di Jalur Gaza
Karya : Jehad Rajby
Diterjemahkan dari : Lan Amuta Suda
Penerjemah : Ibnu Mahrus
Penerbit : Edelweis
Tebal : 240 halaman

5 thoughts on “CHILDREN OF ROSES

    • Kan kami bemotto STOP MEMBACA LESTARIKAN KEBODOHAN, jadi selalu membaca walau pinjam2an buku agar tidak melestarikan kebodohan..Hihihi..Tiwi ntar balikin buku yah, jangan terpengaruh komen diatas..ahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s