Empat Tahun Bersamanya


Tulisan ini saya persembahkan untuknya yang telah setia menemani saya selama empat tahun ini. Tulisan ini saya persembahkan pula untuk orang-orang yang sering menanyakan keanehan kami saat kami bersama. Mulai dari sekedar melihat dengan pandangan yang ragu dan memandang aneh kami, sampai orang yang meledek kedekatan kami. Tetapi yang utama adalah tulisan ini untuk menghibur siapa saja anda pengunjung blog saya.

Awal tahun 2007, saya menemukannya disebuah outlet di Jl. Sumatera, salah satu outlet resmi sebuah merk tas. Sekitar bulan Maret 2007 berarti saya telah mendapatkan gaji yang kedua sebagai eksternal auditor. Gaji yang cukup lumayan untuk ukuran saya. Saat itu saya memiliki keinginan untuk membeli sebuah tas. Membeli sebuah tas ransel yang compatible untuk laptop sudah saya idam-idamkan, sejak saya mendapatkan laptop inventaris kantor”Dull” (heheh pelesetan sebuah merk laptop). Selama ini saya hanya memakai tas ransel biasa, didalamnya tidak ada tempat laptop, jadi kasian kali laptopku ini merasa tersiksa di dalam tas.

Entah hari Sabtu atau Minggu, yang jelas saat saya sedang pulang ke Bandung saya bulatkan hati untuk membeli sebuah tas ransel khusus laptop. Saya langsung menuju sebuah outlet di Jl Sumatera, karena yang saya tahu produk-produk mereka tasnya awet dan nyaman dipakai. Saya melihat-lihat seiisi toko, tapi saya fokuskan mencari tas khusus laptop dengan model ransel/ backpack. Oia saya tidak suka jika membawa laptop dengan tas di sebelah bahu, terlebih lagi jika membawa laptop hanya dengan menjinjing case kecil hanya muat laptop dan saya harus tetap membawa tas jinjing khas wanita. Membawa tas backpack jauh lebih aman dan nyaman buat saya.

Waw, ini dia saya menemukan sebuah model yang cocok, bentuknya kotak sedikit memanjang, didalamnya ada beberapa kantung untuk hp, harddisk, dan tempat lainnya. Bentuknya juga cukup sederhana dan simple, warna yang tersedia adalah hijau,pink, dan biru. Hitam juga seharusnya ada, cuma stocknya sedang kosong. Saya jatuh hati pada si biru, karena birunya lembut dan cukup manis. Tapi tiba-tiba terlintas dan melirik untuk mengalihkan hati saya pada si pink. Saat itu tiba-tiba terlintas pernyataan teman kos saya yang menyatakan bahwa penampilan saya sering tidak feminim, pikirku mungkin jika saya memakai tas pink membuat saya sedikit lebih feminim. Bimbang pilih si biru apa si pinky. Akhirnya entah kenapa hati ini akhirnya menjatuhkan pilihan pada si pinky. Saya bawa dia ke kasir harganya cukup lumayan (dari harga pasaran mungkin relatif murah, tetapi saya tidak pernah membeli tas mahal, jadi harga tersebut cukup berarti untuk saya).

Setalah sampai di rumah entah kenapa saya menjadi ragu, kok pilih si pinky sih. Terlebih saat sampai di rumah ibu mempertanyakan kenapa saya memilih warna pink. Saya hanya menjawab, ”Ya sudahlah kan sudah dibeli.”

Di kamar saya kembali bimbang, bimbang atas pilihanku. Oh dapat saya rasakan orang yang berkeluarga tiba-tiba bimbang akan pasangannya yang dirasakan tidak cocok (hihih analogi yang berlebihan). Tapi saya tak sampai hati untuk terus meragukannya dan mengabaikannya, maka saya putuskan untuk memantapkan diri dan membuat rasionalisasi mengapa saya memilihnya (hayo yang sudah berpasangan, lihat lagi pasangan anda, sampai hatikah untuk mengabaikannya).

Setelah berpikir beberapa saat, inilah rasionalisasi saya dan memang saya rasakan ini sangat pas dan tidak mengada-ada. Pertama adalah bentuk dan warna tas ini membuat tampilannya tidak seperti tas laptop sesungguhnya. Hal ini akan membuat saya lebih merasa aman saat naik Kopaja atau Metro Mini (bukan angkot dong, kan saya kerja di Jakarta saat itu), sehingga saya tidak mengundang perhatian calon rampok atau copet laptop karena akan mengira ini adalah tas biasa dan tidak ada laptop didalamnya. Alasan kedua ya sesuai dengan alasan awal, agar saya tampil lebih feminim.

Hari pertama saya membawa si pinky ke kantor. Rasanya tampak aneh apalagi saat berada lift bersama para eksekutif dan profesional yang bekerja di gedung ini-Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia), saya berusaha menguatkan hati ini, tenang Ine, mereka kan gak kenal kamu ini!! (kebetulan saat di lift tidak ada teman kerja yang saya kenal).

Saat bekerja awalnya biasa saja, karena tidak banyak yang melihat tas pinky, di sore hari seniorku (jenjang auditor di atas saya yang waktu itu junior auditor) melihat kebawah meja saya (tempat saya menyimpan tas), langsung dia cekikan dan nyeletuk, ”Cie…tas baru, tapi gak salah Ne? Kayak tas ponakan saya.”

”Ia dong biar tampak lebih muda.”, saya jawab sekenanya.

Beberapa hari selanjutnya saya masih membiasakan diri, dan di satu hari saya harus makan bersama tim saya yang lain (bukan tim senior yang tadi). Jadi, inilah penampilan perdana tas saya dihadapan tim saya yang satunya lagi. Sudah saya duga….respon yang sama mereka lontarkan. Seorang manager muda nyeletuk pada senior manager, ”Mbak Ita liat tas baru Ine.”

Lalu manager mudaku ini komentar lagi, ”Ine lo tinggal bawa tempat makan dan botol minum, jadi kayak ke TK deh.”

Saya hanya menjwab dengan muka innocent senyum manis, ”Heheh, tapi kan imut dan lucu mbak!!”

Bagi orang yang sudah akrab dengan saya pasti selalu komentar tentang si pinky ini, atau bagi orang yang kenal tapi tidak akrab biasanya hanya tersenyum tapi merasa aneh dan tidak berani bertanya takut menyinggung perasaan mungkin, atau bagi orang selewat mungkin berpikir ini anek aneh yah pake tas pink (maaf saya suudzon).

Apapun tanggapan orang saat itu, saya tidak ambil hati, karena saya rasakan tas ini sangat nyaman, dan warnanya juga pink lembut kok, bukan shocking pink jadi tidak terlalu mencolok. Jadi saat itu saya putuskan untuk setia padanya, dan saya tidak akan mengganti tas ini sampai saya jadi manager, itulah janji saya saat itu.

Itu kisah awalan tentang si pinky, apakah saya berpindah ke lain hati, sampaikah tas ini mengantarkan saya menjadi manager, dan kisah unik lainnya akan disambung pada posting selanjutnya.

NB:
1.Maaf untuk pembaca yang merasa terjebak dengan judul tulisan.
2.Tulisan ini semoga mengingatkan saya untuk menerima atas apa yang telah saya pilih dan mensyukuri atas apa yang telah saya dapatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s