CERITA MATA


Dokter lebih tahu dari pasiennya
Auditor lebih tahu dari auditee/ clientnya
Dosen lebih tahu dari mahasiswanya
Guru lebih tahu dari muridnya
Atasan lebih tahu dari bawahannya
Orangtua lebih tahu dari anaknya
Dan banyak orang yang lebih tahu

Lintas profesi atau perbedaan usia atau seseorang yang dianggap lebih expert akan secara alamiah lebih memahami atau lebih tahu atas sesuatu hal yang sesuai bidangnya. Hal yang wajar karena hal itu merupakan hasil pembelajaran formal dan proses belajar dari pengalaman.

Saat berasa di posisi yang ‘lebih tahu’ saya sendiri kadang merasakan bahwa ‘aku lebih tahu’. Misal saat menjadi eksternal auditor, saat meminta data sebagai bahan analisa dalam melakukan prosedur audit, saya sebagai auditor menjelaskan terlebih dahulu maksud dan kegunaan data tersebut untuk kami. Terkadang ada auditee yang muter-muter atau ngeyel dan menjelaskan hal yang kurang masuk akal, dan menganggap bahwa data tersebut tidak perlu disediakan karena tidak relevan dengan audit. Dalam hati pernah terbesit bahwa, ‘ Ya sudahlah sediakan saja, auditor kan lebih tahu’. Hanya terbersit dalam hati, tetapi tidak saya ucapkan, karena hal ini adalah hal yang wajar saat lawan bicara kita meminta penjelasan lebih lanjut, terlebih beda profesi ada banyak hal gap dalam komunikasi.

Hal yang serupa terjadi pada hari ini dan sekarang menjadi obyek penderita atau orang yang tidak tahu tapi sok tahu. Alkisah pada pagi hari ini, saya pergi ke sebuah rumah sakit (tidak saya sebutkan nama rumah sakit), hanya untuk memeriksa minus mata saya. Sesuai prosedur di tempat saya bekerja untuk reimbursement kaca mata saya harus mendapatkan resep dari dokter spesialis mata.

Tiba di rumah sakit, setelah pendaftaran (saya baru ke rumah sakit tersebut) saya langsung menuju poli mata. Jumlah pasien tidak terlalu banyak, tetapi saya harus menunggu relatif lama, saya maklumi hal ini, mungkin karena saya pasien baru, sehingga harus menunggu kartu rekam medis selesai dicetak.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam saya masuk, kemudian saya menyerahkan surat rujukan dari dokter umum di poli kantor. Selanjutnya, saya di cek oleh perawat menggunakan sebuah mesin untuk pemeriksaan silindris. Setelah pemeriksaan oleh perawat saya berbincang sebentar dengan dokter.

Dokter menanyakan mengenai kaca mata saya, ”Sudah berapa lama kaca matanya ? ”

Yang ini dua tahun Dok, tapi ini ukurannya gak pas, kaca mata yang baru saya rusak. ”

”Oh, ya mari kita periksa matanya.”

Dokter memeriksa minus mata saya dengan metode standard di dokter mata dan di optik pada umumnya, saya diminta membaca rangkaian huruf dan angka, dengan mengganti-ganti lensa.

Awalnya saya memakai lensa (entah ukuran berapa) saya merasa agak buram, dokter mengganti dan langsung merasa terang dan huruf terlihat jelas. Saat itu saya tidaka mengatakan pusing atau berat karena biasanya memakai lensa yang tidak pas atau ukuran lebih besar akan merasa pusing jika digunkana beberapa menit, bukan saat itu juga.

Kemudian dokter menyampaikan hasil pemeriksaannya, ”Kamu minus (2.25) kanan dan kiri.

Sontak saya kaget, karena kacamata yang saya gunakan hari ini minus 1 dan masih bisa terbaca walau agak kabur. Selain itu kaca mata yang baru saya (yang saya bilang rusak tadi) berukuran kanan minus1.5 dan kiri minus 1.25. Keduanya hasil pengukuran di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Mungkin pembaca menganggap kan minusnya bisa saja nambah. Akan tetapi terakhir saya periksa di optik kurang dari enam bulan yang lalu, ukurannya masih berukuran kanan minus1.5 dan kiri minus 1.25. Bukan menghindari dari kenyataan seandainya minus saya bertambah, tetapi hal ini menjadi tanda tanya besar, masa dalam waktu singkat bisa meningkat dua kali lipat, dan selama setahun lebih di kantor baru ini frekuensi kelelahan mata saya sudah jauh berkurang (di kantor sebelumnya mata saya lebih di porsir untuk memperhatikan angka-angka dalam spreadsheet).

”Dokter masa sih besar sekali sampai minus 2.25”, mungkin saya menunjukkan mimik muka menyangsikan dan meragukan beliau.

”Ia wajarlah kacamata kamu saja minus 2”

”Nggak Dokter, ini kacamata saya minus 1, kanan kiri minus 1”

”Kaca mata minus 2 kok ngaku-ngaku minus 1, aneh!!!!!”

Dalam hati justru saya merasa aneh dengan bapak Dokter ini, ini kan kaca mata saya, saya ingat waktu periksa mata di dokter dan pembuatannya di optik, dan sepertinya tidak mungkin optik salah memasangkan lensa, ” Dokter kaca mata ini dulu saya minta resep terlebih dahulu di rumah sakit, saya gak tau apa ada perubahan oleh lensa atau gimana, setahu saya ini kaca mata saya minus satu.”

Saya meminta diperiksa sekali lagi, kemudian dokter malah bertanya, ”Kamu mau resep kaca mata dikecilin atau resep kaca mata yang sesuai.” Saya diam sejenak merasa ini bukan pertanyaan yang harus dijawab.

Tetapi akhrnya saya menjawab ”Saya ingin yang cocok dokter cuma masa minus saya langsung besar.”

Dokter kemudian menjawab dengan yang kurang mengenakan saya (atau saya yang sensitif yah), ”Saya baru dapat pasien seperti ini, membuat kacamata kan harus yang enak, bukannya gak mau minus nya besar.”

Karena dokter lebih tua dari saya, dan mungkin ada perkataan saya dengan nada yang salah saya meminta maaf,” Ia maaf dokter tetapi saya kaget jika minus saya nambah begitu besar.”

Kaca mata saya diserahkan ke perawat, dan dia membaca sebuah catatan (entah apa) saya duga dia sedikit kaget mungkin salah membawa kertas.

Mata saya diperiksa lagi dengan lebih lama, sepertinya bertahap mulai dari yang kecil. Singkat ceita akhirnya diperoleh kesimpulan kanan minus 1.5 dan kiri minus 1.25.

Selanjutnya dicoba lensa yang lain saya bilang, ”hampir sama dokter”

Sekali lagi dokter menjawab yang menurut saya kurang pas (apa saya nya bego banget yah), ”Jangan bilang hampir sama atau agak sama, kamu lebih enak yang mana, ini kan harus pasti.”

Huuhuhu, kalo lensa yang dipakai beda dikit kan hampir sama, maka saya bilang ”Enak yang tadi saja Dok, yang ini lebih lelah.”. Dalam hati untuk merasakan lelah atau tidak saya tidak dapat merasakan langsung mungkin butuh waktu beberapa menit, yang barusan kira-kira saja.

Ok akhirnya setelah perdebatan yang banyak tadi diatas, akhirnya kami sepakat kanan minus 1.5 dan kiri minus 1.25. Kemudian perawat tadi bilang,” kacamata tadi minus satu, satunya itu dari Optik XXXX.” (Muncul kecurigaan saya itu bukan berkas punya saya).

Dokter kemudian bertanya kacamata yang biasa dipakai berapa saya jawab saja minus1.25 kanan kiri padahal kaca mata saya 1.5 dan 1.25 (tidak bermaksud berbohong tetapi karena saya biasa memakai soflens untuk ukuran tersebut).

Dengan segala kerendahan hati saya yang memimnta maaf pada dokter, ” Maaf dokter tadi bukan saya meragukan tapi tadi saya kaget.”

”Oia tidak apa-apa, saya juga bukan merasa lebih tahu yah.”

”Ia memang dokter lebih tahu dari saya” (kan bapak dokternya saya kan pasien dalam hatiku)

Ia saya memang lebih tahu, tetapi kan perlu komunikasi untuk mendapatkan hasil yang sesuai.

Sambil menuliskan resep kacamata, dokter menyelingi dengan mengobrol ya kurang penting sih tapi tak apalah saya jawab dengan seramah mungkin untuk mencairkan suasana yang tadi mungkin kurang mengenakan. Setelah beberapa pertanyaan tak penting, kemudian saat menuliskan nama pada resep, ”Nona Ine Dwiyanti yah.”

”Ia dokter”

”Kenapa Nona?”

Saya tidak menjawab karena saya hanya mendengar sekilas,

Pertanyaan diulangi lagi oleh dokter, ”Kenapa Nona”

Saya menjawab sekenanya, karena saya menjadi semakin sensitif karena sudah lelah dengan perdebatan tadi mengenai ukuran minus, ”Ia karena belum menikah jadi namanya Nona.”

”Kenapa belum menikah?”

”Belum bertemu jodoh mungkin”, huuh kenapa harus dibahas sih, padahal biasanya saya untuk pertanyaan mengenai menikah jarang sekali saya merasa tersinggung malah saya menjawab dengan candaan.

Mungkin karena sudah merasa ilfeel (ilang feeling..heheheh) gara-gara permasalahan minus membuat saya semakin kesal dengan pertanyaan tersebut. Betapa tidak enaknya kunjungan kedokter kali ini. Alhamdulillah, akhirnya pemeriksaan selesai, dan saya bisa keluar dari pintu dokter ini.

Dalam hati merasa kesal, tetapi saya teringat mungkin saya pribadi yang sering sok tahu terhadap orang lain, atau mungkin memang nada berbicara saya terkesan ngotot, saya terima hari ini dengan lapang dada. Tetapi saya sebagai pasien atau pihak yang tidak lebih tahu tetap merasa bahwa jangan sungkan untuk bertanya jika ada hal-hal yang dirasakan tidak puas atau menimbulkan pertanyaan dalam benak.

2 thoughts on “CERITA MATA

  1. hahhahahahaha, pasien di zaman sekarang harus smart ne….khan dokter juga manusia bisa juga khilaf…gw dah berkali-kali menghadapi hal yang sama, bukannya kita sok tau tapi karena kita memang harus tau apalagi hal-hal yang menyangkut kesehatan kita dan keluarga……khan sekarang medianya udah banyak dan pasien berhak mendapatkan penjelasan atas semua tindakan medis yang diberi dokter terhadap dirinya……

    Dan sepertinya sekarang sudah mulai ada (walaupun jumlahnya masih sangat kecil) dokter-dokter (yang mau berkembang dan sportif) sudah mau mulai belajar dari pasiennya kok…..

    So must be a smart patient

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s