EGOISME DAN KEBERPIHAKAN


Merasa atasan terlalu berpihak pada rekan kerja kita, dan terdzalimi. Merasa ibu pilih kasih pada adik kita. Merasa tidak ada political will bagi rakyat kecil. Hem terlalu banyak yang kita rasakan atas egoisme orang-orang disamping kita dan superior akhirnya memilih si egois. Atau bahkan kita adalah si egois atau kita adalah sang superior pembuat keputusan walau tanpa disadari ternyata telah memihak pada yang salah.

Awalnya ini merupakan kisah sederhana yang saya alami kemarin pagi sampai subuh hari ini. Saat sebuah sistem tak mampu saling bertoleransi, dan berakhir dengan sebuah penderitaan bersama. Heheh sangat politis nampaknya kisah ini.

Sebuah pengalaman sederhana, antara egoisme si rongga mulut yang mengorbankan tenggorokan dan otak pengambil keputusan memilih untuk memberikan kesempatan pada si mulut dan berakhir penderitaan pada tenggorokan dan si perut terkena efek sampingnya. Sudah seminggu ini saya flu dan batuk, entah karena cuaca, kecapekan, yang jelas sih flu dan batuk disebabkan oleh virus influenza menyerang saat daya tahan tubuh lemah.

Tenggorokan kemarin itu masih terasa gatal bahkan masing terdengar batuk sesekali. Datanglah godaan si keripik singkong pedas super, keripik setan namanya. Keripik gratis dan buat saya yang jarang makan pedas menjadi sebuah pengalaman baru yang tak ingin dilewatkan oleh si mulut. Si mulut adalah kelompok konspirasi antara lidah, gigi, dan bibir sangat ingin merasakan keripik pedas tersebut. Tentulah si tenggorokan keberatan karena cabe yang melewatinya akan membuat dia semakin gatal.

Otak sebagai pemegang kendali sempat bingung, di satu sisi dia ingin memberikan kesempatan lebih pada si mulut yang selama ini telah memberikan banyak kontribusi positif, di sisi lain dia tak tega pada tenggorokan yang menolak keripik pedas toh tenggorokan juga sudah banyak kontribusinya juga. Teringat akan obat batuk di rumah, akhirnya diputuskan untuk makan keripik pedas, tak apalah hari ini makan keripik pedas tersebut, masih ada obat batuk untuk menenangkan tenggorokan yang esok hari akan melakukan demonstrasi dengan aksi batuknya.

Tak hanya beberapa suap, ternyata si mulut terus berkonspirasi agar memakan keripik pedas tersebut dimakan lagi dan lagi. Tenggorokan hanya bisa pasrah dengan bubuk cabe pedas yang menyiksa, pasrah hanya mendapatkan basuhan air hangat yang melegakan ia sementara waktu. Menjelang siang, sebuah symptom buruk mulai terasa, tak hanya tenggorokan perut pun merasakan ketidaknyamanan, terasa panas dan melilit.

Alhasil mulai siang hari melilit pada perut dan tenggorokan semakin gatal. Hal ini berlanjut sampai subuh tadi. Untunglah diredakan oleh madu agar pencernaan lebih bersahabat dan obat batuk untuk melegakan tenggorokan.

Subuh tadi sang otak berjanji untuk tidak membuat keputusan yang ternyata akan berdampak pada penderitaan anggota tubuh lain, karena yang lainnya akan ikut merasakan sakit. Yah hanya berlaku sesaat si mulut melihat toples kerupuk dan merayu otak untuk memutuskan boleh memakannya. It is ok hanya sedikit saja. Humph tenggorokan hanya bisa pasrah dan berharap mulut tak egois lagi dan otak bisa berlaku lebih bijak.

3 thoughts on “EGOISME DAN KEBERPIHAKAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s