Saga no Gabai Bachan


Tersenyum, tertawa, terharu, simpati dan empati, ada sejuta rasa yang saya rasakan saat membaca buku ini. Hikmah kehidupan, nilai kesederhanaan, rasa sayang diungkapkan dengan gaya ringan oleh penulisnya. Sebuah kisah nyata mengenai perjalanan hidup seorang anak yang diasuh dan dirawat oleh neneknya.

Pada halaman belakang dituliskan ringkasan buku ini tertulis.

Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom terpaksa berpisah dari ibu untuk tinggal bersama neneknya di Saga. Meskipun keluarganya hidup prihatin, namun kehidupan di Saga satu peringkat lebih miskin. Tetapi sang nenek selalu punya ratusan akal untuk meneruskan kehidupan dan membesarkan cucunya.

Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan selalu mereka jalani penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikan. Namun waktu terus berjalan dan tibalah hari ketika Akihiro harus mengambil keputusan. Dia harus memilih antara nenek dan Saga yang dia cintai atau mengejer mimpi-mimpinya.

Pengarang-Yosichi Shimada berhasil mengetengahkan kisah unik, lucu, namun penuh hikmah. Pada Bab I- Dorongan dari Ibu, menghadirkan rasa haru, perasaan yang dialami oleh seorang anak kecil yang dibodohi orang dewasa (Ibu dan bibi Akihiro) sehingga dia harus terpisah dengan ibunya.

Mulai Bab II saat bertemu dengan neneknya, mulailah kisah unik, kekaguman akan kesederhanaan hidup, dan penyikapan atas berbagai kesulitan dengan perasaan ceria.

Dialog yang paling saya sukai ada pada Bab III;

….”Nek, kita memang miskin sekarang, tapi suatu hari nanti enak juga ya kalau bisa jadi kaya.”

 ”Kau ini bicara apa? Ada dua jalan buat orang miskin.

”Miskin muram dan miskin ceria .

“Kita ini miskin yang ceria.

”Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas.

”Tetaplah percaya diri.

”Keluarga kita memang turun-temurun miskin.

”Pertama, jadi orang kaya itu susah.

”Selalu makan enak, pergi berpelesir, hidupnya sibuk.

”Dan karena selalu berpakaian bagus saat bepergian, bahkan di saat jatuh pun, mereka harus tetap cara memerhatikan cara jatuh mereka.

”Sedangkan orang miskin sejak awal kan selalu mengenakan pakaian kotor. Entah itu saat hujan, saat harus duduk di tanah, mau jatuh, ya bebas, terserah saja.

”Ahh, untung kita miskin.”

 Aku diam.

Lalu, ”Selamat tidur, Nek.”ujarku tanpa tahu harus berkata apa lagi.

Masih banyak kisah lain yang menggelitik, tetapi cukup sekian saya tuliskan agar rasa penasaran anda untuk membacanya lebih tinggi.

Identitas Buku:

Saga no Gabai Bachan

NENEK HEBAT DARI SAGA

Penerbit Kansha Book (a division of Mahda Book)

Cetakan II, May 2001

Tebal :245hal

Originally published by Tokuma Shoten Publishing Co.,Ltd in Japan

 

One thought on “Saga no Gabai Bachan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s