Kutu Loncat?????


Apa yang kita pertimbangkan saat memilih pekerjaan? Gaji yang memadai? Bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan? Nama besar perusahaan? Career path yang jelas? Pengembangan diri yang akan didapat dari perusahaan? Waktu kerja yang fleksibel? Kerja yang penuh dengan tantangan? Masih banyak lagi hal-hal yang menjadikan seseorang memilih pekerjaan, posisi dan perusahaan mana dia akan berkarya dan mendapatkan imbalan.

Tulisan ini mungkin lebih cocok untuk kita yang memulai langkah setelah menempuh pendidikan kemudian mencari pekerjaan. Walau sebenarnya banyak peluang bisnis yang dapat diciptakan, saya menghargai juga untuk orang yang memilih bekerja pada perusahaan dahulu untuk kemudian memilih apakah dia akan tetap bekerja atau berbisnis sendiri.

Saya pribadi merupakan kategori orang yang setelah lulus kemudian bekerja pada perusahaan. Salah satu fenomena yang menarik bagi orang yang bekerja adalah keputusan setelah mendapatkan pekerjaan, yaitu kecenderungan untuk berpindah perusahaan/ berpindah kerja dengan berbagai alasan.

Hal yang saya alami, dan juga pengamatan dari rekan-rekan sejawat, kurva yang dialami seorang pekerja mungkin mirip dengan kurva kepuasan, dimana suatu saat akan mencapai titik kejenuhan, dan disaat titik jenuh maupun fase sebelum titik jenuh, kita akan mencari atmosfer lain. Pencarian atmosfer lain bisa jadi dengan mengalihkan perhatian dengan melakukan hal-hal mengasyikan diluar pekerjaan rutin misalnya menekuni hobi, mencari pekerjaan sampingan. Atau alternatif lain yang ditempuh adalah dengan mencari kelompok lain atau berpindah divisi dalam tetapi tetap dalam perusahaan saat ini. Untuk kategori ini adalah orang-orang yang masih mencintai perusahaannya tetapi sudah merasa jenuh dengan timnya saat ini.Kelompok terakhir adalah kelompok yang memilih untuk meninggalkan perusahaan dan mencari pekerjaan yang lebih baik.

Saya pribadi pernah melakukan ketiga hal yang diuraikan diatas pertama mengalihkan perhatian kepada hal diluar pekerjaan, kedua berpindah divisi, dan terakhir meninggalkan perusahaan. Tapi ini bukan berbicara tentang saya sendiri saja loh, tetapi berbicara dengan lingkungan di sekitar kita. Coba perhatikan kaum muda saat ini berbeda dengan era ibu bapak kita atau om dan tante atau atasan kita yang bisa bekerja mengabdi sampai dengan puluhan tahun.

Entah karena kurang rasa bersyukur, atau karena era yang cepat berubah membuat kita cepat jenuh dan selalu mencari pekerjaan yang lebih baik. Tak selamanya ini berbicara tentang better salary, kita bisa berbicara tentang suasana kerja yang kurang bersahabat, atau perusahaan yang kurang mendevelop karyawannya, perusahaan yang memberikan pekerjaan rutin dan kurang menantang, atau sebaliknya perusahaan yang sangat memporsir karyawannya sedangkan ia membutuhkan life balance.

Ah saya sendiri tidak senang dengan istilah kutu loncat, toh tidak semua orang yang berpindah perusahaan untuk membocorkan rahasia perusahaan ia sebelumnya. Salahkah orang yang mencari pekerjaan baru untuk mencari kepuasaan yang kurang dia dapatkan dari perusahaan sebelumnya. Sepertinya perlu pemikiran diantara karyawan dan perusahaan agar bisa melihat lebih detail antara kebutuhan perusahaan dan kebutuhan karyawan. Ok, nanti akan saya bahas lebih lanjut lagi, karena saat ini saya harus bekerja dulu.

2 thoughts on “Kutu Loncat?????

    • Menuangkan fenomena yang dilihat saja, loncat kemana nih? Ine mau Pindah kolam? Atau loncat2 di tempat? Tenang aja kawan ini baru loncatan pemikiran saja. Mau loncat jadi penulis belum ada yang melirik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s