Pilihan Hidup dan Ketetapan


Cakrawala sore memerah jingga, bercampur oranye, sedikit kelabu, pertanda malam segera hadir. Rembulan akan segera menggantikan sang mentari. Ada siang ada malam. Alam diciptakan dengan keseimbangan, serba berpasangan. Sejenak saya renungkan apa yang dikatakan sang Pencipta bahwa kita diciptakan saling berpasang-pasangan. Saya tahu bahwa kita sebagai insan diciptakan sebagai perempuan dan laki-laki. Lantas apakah berpasangan kita artikan dalam sebuah institusi pernikahan, dua entitas menjadi satu. Bahwa menikah adalah pilihan ataukah takdir. Apakah kita berhak memilih untuk memutuskan ingin menikah atau tidak menikah? Apakah setelah memilih lantas takdir akan mengikuti pilihan kita?

Soal takdir dan kehendak Illahi, bisa jadi merupakan hal yang tidak tepat untuk diperdebatkan bagi yang percaya akan kekuasaan sang Khalik. Tetapi kita  tahu bahwa di setiap langkah dan disetiap apa yang kita terima ada peran usaha, doa dan ketetapanNya. Hal yang sering dipertanyakan oleh diri kita adalah sampai sejauh mana peran usaha, usaha seperti apa, bagaimana sinkronisasi dengan ketetapanNya, dan bagaimana juga penyikapan diri setelah ketetapan itu hadir.

Soal rejeki, jodoh, dan mati, sering kita dengar bahwa itu adalah ketetapan Illahi. Sekali lagi disini masih dibuka peluang usaha dan doa, walau tinta perjalanan hidup telah ditulis sebelum kita lahir.

Lebih dipersempit pembahasan mengenai jodoh dalam hal ini menikah. Ya saya sendiri sebelum menikah sering mempertanyakan hal ini. Apakah seseorang yang menikah itu menginginkan pernikahan dalam hidupnya, atau itu berjalan alami saja. Mungkinkah orang yang tidak menginginkan menikah tetapi akhirnya dia ditakdiran menikah, atau sebaliknya saat memilih untuk ingin menjalani sisa hidup dalam pernikahan tetapi dia ditakdiran untuk tidak mendapatkan pasangan di dunia ini.

Hal yang saya perhatikan dari refleksi diri sendiri, apa yang dialami oleh sahabat dan teman, serta memperhatikan lingkungan sekitar, saya memperhatikan bahwa untuk menikah dibutuhkan keputusan diri untuk menikah. Walaupun sebelumnya seseorang sempat memilih untuk tidak menikah, tetapi dalam perjalanan hidupnya, seiring dengan berkembangnya pemahaman (walaupun pemahaman tujuan menikah itu berbeda-beda setiap orang) . Nah disini pula tedapat invisible hand yang menggerakan pemahaman sehingga dengan rela atau tidak rela akhirnya seseorang memutuskan untuk ingin menikah.

Lantas kemudian setelah memutuskan untuk ingin menikah, apakah serta merta akan mendapatkan jodoh. Untuk hal ini saya belum bisa mengamati contoh nyata yang terjadi disekitar saya. Hal ini pula yang mungkin menjadi ”kegalauan” bagi yang belum menemukan jodoh tetapi sangat ingin menikah.

Tetapi mengapa mesti galau dan resah, bukankah pintu usaha dan doa terbuka lebar bagi siapa saja. Jika Rabb sudah ridha, setiap makhluk di alam semesta ini akan membantu mewujudkan walaupun hal tersebut tidak kita sadari. Bergaul dengan baik dan sopan, berdoa, dan berpikir positif dan optimis maka sang Rabb memberikan yang terbaik. Awalnya sulit, tetapi kita coba untuk selalu bersikap positif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s