Privilege Kucing


Sore kemarin, saat perjalanan pulang dari kantor menuju ke rumah, tepatnya di Jl. Sekejati (jalan tembus Binong ke Soekarno Hatta), terdapat pemandangan miris. Dari dalam angkot saya melihat seekor anjing tergeletak tak bernyawa. Tak dapat saya pastikan penyebab kematian anjing tersebut.

Saya menduga anjing tersebut adalah korban tabrak lari, melihat kondisi anjing yang berdarah pada bagian kepala dan mulut. Mengingat jalan tersebut adalah jalan tembus, daerah sekitar persawahan, relatif sepi pada malam hari, sehingga memungkinkan pengendara mobil atau motor melaju kencang. Anjing tersebut pun melewati jalan tersebut mungkin karena daerah tersebut bukan merupakan jalan raya yang sangat ramai.

Naas dialami sang Anjing, diduga sebagai  korban tabrak lari, dan yang lebih kasian lagi adalah anjing tersebut dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Mungkin si pengendara merasa sudah tak ada waktu untuk menguburkannya. Padahal dengan menguburkannya selain ungkapan rasa ”perikebinatangan” juga agar pengguna jalan lain tidak melihat jasad anjing berada di pinggir jalan, selain miris tentu ada perasaan mual juga.

Selain anjing, sebagai yang menjadi korban tabrak lari, manusia pejalan kaki pun terkadang tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari sesama pengguna jalan. Di kota Bandung dan juga kota lainnya dengan jalanan sekarang yang cukup ramai oleh mobil ataupun motor, sangat sulit untuk menyebarang di areal tertentu. Tanpa jembatan penyebrangan, tanpa lampu merah-hijau untuk penyebrang, dan yang utama adalah tanpa kesabaran pengguna kendaraan.

Teringat kejadian beberapa tahun lalu, seorang satpam sekolah menjadi korban tabrak lari. Setelah berhasil menyebrangkan anak-anak sekolah dan kemudian ia hendak kembali ke ruas jalan semula, naas ia mendapat hantaman dari kendaraan. Padahal di tangannya memegang rambu portable bertanda ”Stop”. Bahkan jiwa manusia pun serasa tak berharga di mata pelaku dengan lari begitu saja.

Saya rasakan sendiri sebagai pejalan kaki saat ini, sangat sulit sekali mendapatkan kesempatan menyebrang dengan aman. Semua pengendara sepertinya terburu-buru. Bahkan jika beberapa kendaraan memberikan peluang kita menyebrang, pengendara dibelakangnya (motor ataupun mobil) dengan segera menyalip tanpa berpikir tentunya kendaraan di depan berhenti sejenak karena ada rintangan (dalam hal ini memberikan kesempatan menyebrang).

Makhluk yang lebih beruntung di jalan raya menurut saya adalah kucing. Kucing seolah memiliki privilege dalam urusan sebrang menyebrang. Walaupun konon katanya ia memiliki 13 nyawa, kucing mendapat penghormatan lebih dari pengendara. Sering saya melihat mobil yang sedang melaju kencang pun rela berhenti sejenak saat kucing tiba-tiba dengan santainya menyebrang jalan. Entah karena memang pengendara tersebut ”berkepribinatangan” atau karena adanya rasa takut sial jika menabrak kucing. Mitos yang sangat melekat di masyarakat bahwa jika menabrak kucing akan mendapatkan kesialan menjadi keuntungan sendiri buat si kucing.

Betapa disini terlihat bahwa terkadang kita tidak memberikan kesempatan pada sesama kita dengan rasional atau pemikiran yang baik. Bukankah dengan sedikit kesabaran kita telah memberikan kemudahan untuk sesama. Terkadang jadi iri sama si kucing. Jadi terlintas sebuah ide, saat menyebrang siapkan rambu portable dengan tulisan ”Kucing Mau Nyebrang”, untuk lebih meyakinkan bawa juga boneka kucing yaa.

4 thoughts on “Privilege Kucing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s