Merasa Dekat dengan yang Dekat


Hari ini saya membaca tulisan dari salah satu teman saya. Bercerita mengenai perlunya berbasi-basi. Sedikit menyapa, menanyakan kabar atau pertanyaan yang seolah tak penting ternyata penting untuk kehidupan social kita. Bukan sekedar basa-basi tetapi sebuah ucapan yang tulus sebagai insan yang membutuhkan rasa perhatian antar sesama.Tulisan saya kali ini terinspirasi dari inti tulisan teman saya itu.

Perkembangan teknologi terkadang membuat kita merasa jauh dengan yang dekat dan merasa dekat dengan jauh. Bukan salah teknologi mungkin karena gaya hidup, pola interaksi kita yang semakin bergeser. Mungkin tak ada yang salah karena kita semakin memaklumi dengan pola interaksi seperti itu, semakin individualis dengan orang disekeliling dan serasa semakin akrab dengan orang nun jauh disana.

Saya tak akan terlalu membahas tentang hubungan perkembangan teknologi dan pola interaksi manusia. Tetapi saya lebih menyoroti keberadaan kita dalam satu lingkungan. Pernahkah kita merasa saat berada dalam satu komunitas atau lingkungan, kita merasa ada dan tiada kita rasanya sama saja. Seolah kita tidak memberikan warna, atau malah tidak terasa keberadaan kita. Jika anda pernah merasa hal itu, sama dong saya juga pernah merasakan hal tersebut.

Jika anda merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut (ada dan tiada nya kita sama saja) adalah sebuah hal yang baik, setidaknya anda mulai sensitif dengan lingkungan anda. Saya sendiri bukanlah orang yang pandai berbasa-basi, rasanya perlu energi yang besar untuk mengucapkan sedikit kata basi basi misalnya menanyakan kabar keluarga, terlebih pada atasan atau orang-orang yang jarang berinteraksi dengan kita. Terkadang terbersit ah kalo basa basi nanti dikira cari muka, atau sok akrab banget nih. Hambatan lainnya yang saya miliki adalah set default air muka saya yang terlihat serius dan cool. Jika saya yang tidak memulai basa-basi maka orang yang pertama kali mengenal saya akan sungkan untuk menyapa lebih dulu.

Sulit membiasakan untuk menjadi pribadi yang ramah, tetapi setidaknya  mencoba tersenyum pada orang yang saya kenal. Lebih peka dengan lingkungan sekitar dan tidak terlalu individualis, tulus sebagai sesama insan sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s