Tak Selamanya Bersih Tak Risih


Masih ingat iklan layanan masyarakat beberapa tahun lalu mengenai antisipasi pencucian uang. Dalam iklan diceritakan bahwa nasabah harus menandatangani sebuah pernyataan jika ia menabung atau bertransaksi dalam nilai cukup besar. Pernyataan nasabah bahwa dana tersebut tidak berasal dari praktek pencucian uang. Awalnya nasabah keberatan karena dia menganggap pihak bank mempunyai kecurigaan, sehingga pihak bank melontarkan tag line “Kalau Bersih Kenapa Risih”.

Untuk prosedur pengecekan mengapa harus risih jika anda memang bersih atau tidak melakukan kejahatan pencucian uang. Saya dan mungkin juga anda mungkin berpikiran yang sama bahwa dengan surat pernyataan saja tidak cukup membuktikan bahwa uang tersebut “bersih”. Akan tetapi saya juga berpikir bahwa setidaknya hal tersebut merupakan tindakan preventif bank jika ada sebuah kasus khusus terkait dana tersebut, setidaknya nasabah telah menyatakan sendiri bahwa uangnya bersih.

Dari iklan tersebut, hal yang perlu saya garis bawahi dari hal ini adalah suatu kontrol dilakukan untuk mengendalikan risiko, kedua kontrol dikomunikasikan untuk kenyamanan bersama. Sebagai contoh iklan dibuat untuk sosialiasi, sehingga masyarakat tidak risih dengan prosedur yang ada setelah tahu manfaat kontrol tersebut dan kontrol tersebut berlaku umum.

Lantas bagaimana jika sebuah kontrol dilakukan jika kita tidak tahu manfaat kontrol tersebut, dan bahkan mungkin kita tidak tahu pemberlakuan kontrol tersebut, atau malah masih menjadi pertanyaan apakah suatu hal tersebut kontrol ataukah hanya sebuah “watch dog”, atau malah “jebakan batman”. Jika hal ini terjadi, maka tag line “Kalau Bersih Kenapa Risih” bisa tidak berlaku, bahkan menjadi “Tak Selamanya Bersih Tak Risih”.

Contoh sederhana adalah mata-mata kantor. Yah terdengar klise memang, dan hampir semua orang tahu bahwa dinding kantor itu bertelinga dan bermata. Dinamika kantor seringkali memupuk kultur “berpura-pura”, terlebih saat kita mengetahui keberadaan si mata-mata. Adakah manfaatnya si mata-mata? Oh ada, tak selamanya mata-mata itu bersifat negatif, karena dengan mata-mata bisa mendorong karyawan lebih mawas diri. Tetapi ekses negatifnya adalah memupuk kultur “berpura-pura”, bahkan jika sudah parah malah menghambat kreativitas dan produktivitas.

Hal yang menurut saya penting adalah bagaimana seorang pemimpin dapat menyaring informasi dan melakukan cek dan ricek atas informasi yang masuk. Hal yang lebih penting adalah membangun rasa saling percaya dan sikap respect antara pemimpin dan yang dipimpinnya serta sesama staf yang dipimpin. Jika respect telah terbangun mungkin keberadaan mata-mata menjadi tidak diperlukan lagi. Akankah seideal itu? Saya tidak menjamin karena dunia kerja penuh dinamika. Setidaknya sikap respect rasa memiliki tanggung jawab jauh lebih baik daripada berpura-pura. Masihkah kita akan memupuk atau dipupuk untuk berpura-pura dengan keberadaan si mata-mata?

One thought on “Tak Selamanya Bersih Tak Risih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s