Mengendap-Endap dan Tersipu Malu (Gaya Membeli Buku Bagian I)


Pernahkah memperhatikan gaya/ tingkah diri sendiri atau orang lain saat membeli buku. Hem membeli buku adalah kegiatan yang lumrah dan umum, dan seringkali jarang terlihat hal khusus saat melihat mimik wajah atau gaya dan tingkah polah orang saat membeli buku. Akan tetapi jika dilihat dengan lebih teliti atau kita ingat-ingat momen diri sendiri saat membeli buku akan ada hal khsusus atau gaya yang menarik saat membeli buku.

Secara umum saat berada di toko buku, kita mencari-cari buku yang ingin kita beli, atau mencari2 dulu buku dengan random karena tidak tahu apa yang akan dibeli, tapi setelah mendapatkan buku yang dirasa pas kemudian ke kasir membayar, kemudian buku langsung dimasukkan ke tas belanja atau disampul terlebih dahulu. Selesai. Hanya seperti itukah? Mungkin benar jika dilihat secara garis besar, tetapi jika kita bisa memerhatikan wajah pembeli buku (diri sendiri atau orang lain) atau jika kejadiannya bisa dilihat secara slow motion akan ada hal yang menarik.

Saya sendiri merasakan beberapa gaya menarik atau tidak biasa saat membeli buku (tebak ya kira-kira gaya ini saat saya beli buku apa ya

  1. Mengendap-endap dan tersipu malu
  2. Perasaan bangga dan memasang mimik muka yang keren
  3. Memasang tampang alim dan cukup sholeh saat menenteng buku ini ke kasir
  4. Berbunga-bunga dan riang gembira
  5. Standar aja deh beli buku kayak biasa.

Kali ini saya akan sharing gaya membeli buku yang pertama “Mengendap-endap dan tersipu malu”. Hem kenapa harus mengendap-endap yah…rasanya seperti melakukan sebuah dosa yang tidak ingin diketahui orang lain. Seolah-olah jika ada orang yang melihat saya membeli buku ini maka orang akan berpandangan negative pada saya. Apa kata dunia jika orang-orang tahu, rusaklah citra saya di dunia persilatan ini (halah lebay).

Saat itu sungguh saya tidak sedang membeli majalah dewasa (?) atau ya yang berbau negatif. Tapi kenapa harus mengendap-endap  yah. Yaa..persepsi kita terhadap orang lainlah yang terkadang membuat kita salah tingkah. Saat itu saya sedang mencari “buku pernikahan”. Kondisinya mungkin berbeda jika saya membeli “buku pernikahan” untuk kado teman yang akan menikah. Karena saat orang melihat saya menenteng buku ini tentu akan dengan sigap menjawab lagi cari kado. Berbeda dengan kondisi saya saat itu jika orang melirik buku saya membawa buku pernikahan maka saya berpikir orang akan berkata cie udah mau nikah?Humph akan saya jawab apa coba.

Kejadian ini terjadi sekitar empat tahun lalu saat keinginan menikah sudah muncul (ya tapi tidak terlalu menggebu sih :D), sedang jomblo, tapi ya pengen beli buku pernikahan dengan harapan saya sudah siap dengan ilmunya jika saya menikah nanti (cita-cita yang mulia kan saat itu).

Hari itu saya meluncur sendiri dari tempat kos ke sebuah toko buku di mall di daerah Jakarta Selatan (oke saya sebut toko buku di Plaza Semanggi). Tempat yang strategis toko buku yang cukup besar saya pikir tidak sulit mendapatkan buku yang saya cari. Tetapi konsekuensinya adalah besar probabilitas saya bertemu dengan orang yang saya kenal di toko buku itu.

Saat di toko buku tak lama saya mencari buku, tidak ada judul khusus yang saya cari. Akhirnya saya menemukan buku “Pengantin Al Pengantin AL-Qur’an : Kalung Permata Buat Anak-anakku ditulis oleh M Quraish Shihab”.

Karena dari awal sudah takut bertemu dengan orang yang saya kenal dan kemudian akan bertanya kenapa saya membeli buku itu rasanya ingin cepat-cepat membayar dan mendapat kantong kresek untuk menaruh buku itu. Dilalah saat itu saya merasa ada sosok yang saya kenal. OMG adik kelas saat kuliah, cowok, cukup saya kenal (tapi bukan kecengan saya loh)..heu..mengendap-endap saya mencari lorong yang aman. Phiuf akhirnya dia sudah tidak berada dekat rak buku ini. Singkat cerita saya akhirnya berhasil membawa buku ini ke kasir dan membayarnya dengan selamat. Hore saya berhasil mendapatkankanya..seketika rona wajah rasanya memerah dan tersipu malu.

NB:

Buku ini saya dedikasikan untuk seorang sahabat sebagai bahan sharing. Saya sering beranggapan jika akan melakukan sesuatu maka kita perlu bekal ilmu. Tak masalah hal itu akan diperoleh atau akan dilakukan kapan. Setidaknya kita sudah memiliki wawasan dan akan menambah bekal kesiapan kita melakukan/mendapatkan  hal itu.

One thought on “Mengendap-Endap dan Tersipu Malu (Gaya Membeli Buku Bagian I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s